Selama ini kita memahami bahwa Al-Qur’an mengacu pada muhsaf dan al-Kitab sebagai nama lain. Begitu juga dengan al-Furqan, al-Dzikr, diklaim sebagai nama lain yang merujuk kepada mushaf. Maka, hal tersebut jelas dibantah oleh Syahrur.
Setiap kata, mulai dari al-Kitab, al-Qur’an, dan seterusnya, memiliki petanda yang berbeda. Nama-nama itu yang menjadi penanda sekaligus memiliki konsep-konsep tersendiri. Ketika hendak menunjuk kepada mushaf, Syahrur lebih memilih penggunaan terma al-Kitab dibanding al-Qu’an. Menurutnya, Al-Qur’an hanya merujuk kepada himpunan bagian yang tetap dari hukum alam yang terprogram di lauh mahfudz.

Karena itu, Al-Qur’an membahas dua muatan utama: 1). Bagian tetap yang terdiri dari realitas objektif yang berdiri di luar kesadaran manusia. Di sini tidak ada celah yang bisa digunakan manusia untuk berdoa atau pun mengubah segala sesuatunya. Sebab, di bagian ini adalah bagian tetap dan berdiri di luar kesadaran dan kemampuan manusia, seperti kematian, peniupan sangkakala. 2). Bagian yang berubah, bagian inilah yang terdapat celah bagi doa atau bahkan ilmu pengetahuan untuk mengubahnya, seperti sehat dan sakit yang kesemuanya kehendak Tuhan yang tentatif, menurut Syahrur.
Tidak hanya itu, ia juga membedakan antara ar-Risalah (kerasulan) dan an-Nubuwwah(kenabian). An-Nubuwwah adalah bagian wahyu yang bersifat objektif di luar kesadaran manusia pula, berbanding terbalik dengan ar-Risalah yang subjektif. Hal ini kemudian dapat dinyatakan, bahwa ar-Risalah lebih cenderung kepada tuntunan etis, akhlak, dan budi pekerti, yang semuanya tidak harus terjadi. Itu bisa dilakukan bisa juga tidak.
Ia juga tidak sungkan-sungkan untuk mengkritik beberapa sarjana Islam yang jauh lebih awal dan dianggap telah melakukan kesalahan fatal dalam interpretasi teks. Dobrakan terhadap kemapanan seperti itu, bagi saya pribadi, adalah suatu ikhtiar untuk kembali menghidupkan dan mengkontekstualisasikan Al-Qur’an. Terlepas dari atensi—dengan konotasi negatif—yang muncul setelahnya, pembacaan Syahrur mungkin diterima sebagai autokritik yang pedas dan memerahkan mata.
