Dari berbagai literatur kita tahu, Syeikh Singkil dikenal sebagai sosok yang mengembangkan ilmu tasawuf, dengan berpedoman secara ketat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Baginya, Al-Quran dan As-Sunnah merupakan dua pegangan yang sangat penting bagi setiap muslim sebagai pandangan hidup agar tidak terjerumus kepada kesesatan. Hal ini didasarkan atas Hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa jika umatnya berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunnahnya, maka ia akan mendapatkan petunjuk dan senantiasa pada jalan yang lurus.
Komitmen dan kesetian Syeikh Singkil berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber dan landasan pemikiran tasawufnya mempunyai makna yang sangat mendalam. Hal ini karena kedua pegangan itulah yang merupakan dasar yang paling utama secara normatif sebagai sarana Syeikh Singkil dalam melahirkan berbagai pemikiran tasawufnya. Secara tersirat hal ini terlihat pada pemahaman dan konsep-konsepnya mengenai tauhid yang membicarakan berbagai hal-hal yang bersifat ontologis, seperti pemahamannya tentang eksistensi Allah, wujud Allah, dan hubungan antara Allah, manusia, dan alam semesta.

Syeikh Singkil tercatat sebagai salah seorang tokoh tasawuf yang menyebarkan doktrin Wahdat al-Wujud, konsep yang berasal dari Ibnu’Arabi. Dalam tasawuf, Wahdat al-Wujud dipahami sebagai suatu kesatuan wujud. Penjelasannya, pada dasarnya wajah itu merupakan satu kesatuan, namun bila banyak bercermin maka akan menjadi banyak.
Dalam kitab Kifayatul Muhtadin, Syeikh Singkil menjelaskan bahwa Allah melihat diri-Nya pada diri-Nya sendiri tatkala Dia menciptakan alam semesta ini. Dari penjelasan ini dapat ditarik benang merah bahwa melalui diri-Nyalah Allah melihat diri-Nya sendiri, kemudian diciptannya alam semesta ini yakni sebagai tajalli-Nya. Sedangkan, diciptakannya manusia sebagai cermin atau bagaikan tubuh tanpa ruh. Dengan demikian, Allah dan Asma-Nya ialah ruh pada tubuh manusia tersebut.
Dalam konsep Syeikh Singkil, Zat Allah itu merupakan wujud yang hanya satu. Sedangkan, manusia dan alam semesta ini hanyalah bayang-bayang dari Allah. Karena itu, alam semesta ini tidak boleh disebut sebagai Allah (‘ain al-Haqq). Alam semesta ini pada dasarnya tidaklah berwujud dengan sendirinya, melainkan tergantung kepada Allah Yang Maha Esa. Jika sesuatau tidak berwujud dengan sendirinya, maka pada dasarnya wujud sesuatu yang tidak berwujud tersebut milik sesuatu yang berwujud. Inilah yang merupakan puncak pemahaman ketauhidan.
Syeikh Singkil juga banyak mengembangkan konsep emanasi (al-Fa’id) dalam bertasawuf. Konsep ini menegaskan bahwa alam semesta merupakan suatu penciptaan oleh Allah melalui al-fa’id (pemancaran atau emansi) dari Zat Allah. Artinya, wujud alam itu pada hakikatnya tidaklah berdiri sendiri, malainkan ada karena pancaran dari Zat Allah. Bahkan, alam ini disebutnya juga bukanlah benar-benar dari-Nya secara absolut, hal ini karena tentu saja akan terdapat wujud yang kedua yang akan berdiri disamping Zat-Nya.
Dalam pandangan Syeikh Singkil, sejak zaman azali tak ada satupun yang menyertai Allah, hal ini dikarenakan Dialah yang pertama kali berwujud atau ada sebelum ciptaan-Nya tercipta. Oleh karena itulah dapat disimpulkan bahwa keberadaan alam semesta ini merupakan sesuatu yang baru. Kemudian dapat ditarik benag merah bahwa alam itu tercipta dari pancaran Zat Allah, alam juga bukanlah suatu wujud yang menyertai, melainkan wujudlah yang diciptakan oleh-Nya. Dengan demikian jelaskah bahwa pada hakikatnya alam itu tidaklah mempunyai kesejajaran derajat dengan Allah, melainkan tingkatannya berada di bawah Allah.
Tasawuf yang dikembangkan Syeikh Singkil juga mencakup hakikat tujuan penciptaan. Menurutnya, Allah menciptakan manusia tidak lain adalah untuk menjadi hamba Allah yang taat terhadap perintah dan larangannya sebagaimana yang termaktub dalam kitab-Nya, termasuk di dalamnya berupa ibadah dan amalan-amalan lainnya.
Dalam hal tujuan penciptaan manusia, Syeikh Singkil mengutip ayat yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 21, yang menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia tak lain ialah untuk beribadah dan bertakwa kepada-Nya. Selain itu, Syeikh Singkil juga mengutip dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi.
