Namun, lanjutnya, sebenarnya persoalannya tidak serumit itu. Bahwa sebenarnya untuk memahami ilmu ushul fikih tidak berbeda halnya dengan memahami ilmu nahu, saraf, dan balaghah. Hanya, dalam ilmu ushul fikih kebanyakan kitab menggunakan gaya bahasa yang cukup rumit dalam pengungkapannya. Inilah yang kemudian menjadi masalah.
Dalam kitab ini, Kiai Afif memberikan penyajian yang baru dari segi ungkapan kebahasaannya. Kebanyakan gaya bahasa yang digunakan dalam kitab ini tidaklah serumit gaya bahasa dalam kitab-kitab ushul fikih klasik. Sehingga, para pemula yang sama sekali belum mempunyai dasar dalam menguasai ilmu ushul fikih dapat menggunakan kitab ini sebagai pijakan pertamanya.

Dalam kitab setebal 70 halaman ini, Kiai Afif menulis tiga tema besar yang menjadi pokok-pokok dasar dalam ilmu fikih. Sebelum masuk ke tiga tema besar tersebut, Kiai afif terlebih dahulu menyuguhkan wejangan mengenai Ahkam al-Islam (hukum-hukum Islam), serta definisi ushul fikih secara umum.
Bab pertama, al-Ahkam as-Syar’iyah, menjadi tempat khusus untuk pembahasan mengenai hukum-hukum syariat yang mesti dipahami oleh seorang pelajar ushul fikih. Penjelasan mengenai hukum wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram dijelaskan secara berurutan dan terperinci.
Al-Adillah as-Sar’iyah menempati bab kedua dalam kitab ini. Secara singkat dan jelas Kiai Afif memberikan pemaparan mengenai pembahasan Al-Qur’an dan hadis yang menjadi rujukan utama umat Islam. Selain itu, juga dijelaskan secara lugas mana kategori dalil-dalil nash yang qath’i (pasti) dan mana yang dzan (tidak pasti). Hal tersebut perlu untuk diketahui oleh para pelajar ushul fikih agar tidak terkecoh dalam menggunakan sebuah dalil yang diambil dari nash.
