Tak Ada Jalan di Luar Konstitusi

Tentu saja, mereka adalah barisan yang menginginkan Jokowi tetap menjadi presiden selama mungkin. Sebab, dengan begitu, mereka akan terus memperoleh keuntungan darinya, baik keuntungan politik kekuasaan maupun ekonomi. Ada kegelisahan, jika pada 2024 nanti Jokowi tak lagi menjadi presiden, mereka akan kehilangan semuanya. Karena itu, meskipun sadar hal itu nyaris mustahil terwujud, mereka terus mencoba-coba mencari jalan agar Jokowi bisa terus bertahan menjadi presiden selama mungkin.

Sementara di kelompok yang berseberangan, sebenarnya juga sadar bahwa wacana itu nyaris mustahil terwujud. Tapi, bagi mereka, ini merupakan peluang emas untuk ikut bermain. Maka, wacana itu kemudian mereka tangkap sebagai mainan baru, dan dikapitalisasi menjadi bola liar untuk menyerang lawan-lawan politik. Dalam sekejap, dua kubu saling berhadapan secara diametral, saling lempar wacana dan perang opini tanpa menyentuh substansi. Itulah yang membuat suhu politik mendidih akhir-akhir ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Di tengah suhu politik yang mendidih itulah banyak orang ikut terbakar. Terbakar ambisi, terbakar rasa benci. Ambisi dan kebencian itulah yang kemudian membonceng dan memanasi demonstrasi mahasiswa, hingga muncul penganiayaan dan penelanjangan Ade Armando, hingga terbentang spanduk-spanduk cabul yang tak hanya menodai demokrasi, tapu juga bulan suci.

Jika semua mau berpikir jernih, sesungguhnya tersedia jalan kembali: konstitusi. Tak ada jalan di luar konstitusi. Sepanjang semua taat pada konstitusi, tak ada yang perlu dikhawatirkan; tak ada jabatan presiden untuk tiga periode, tak ada perpanjangan masa jabatan presiden, tak ada penundaan pemilu.

Memang konstitusi bukan kitab suci dan tak akan pernah sempurna, dan karena itu sangat mungkin untuk diamandemen. Tapi siapa hari ini yang berani mengamandemen konstitusi kita, ketika hari-hari kita dipanasi oleh rasa benci, ketika kita tak lagi saling percaya, ketika kita masih saling curiga, ketika masing-masing masih mendesakkan ambisi dan kebenarannya sendiri. Di tengah situasi seperti ini, mengamandemen konstitusi sama artinya dengan membuka kotak pandora, lalu semua akan binasa oleh ular berbisa.

Tinggalkan Balasan