Tak Ada Salju di Sydney

“Kau akan pulang, kan, setelah lulus?” tanya Elisa memastikan. Aku hanya menghela napas.

“Entahlah… Aku sudah tidak punya rumah untuk pulang. Bapak dan ibuku sudah lama meninggal. Nenekku, satu-satunya keluarga yang tersisa, juga telah meninggal sebulan sebelum aku mendapat beasiswa. Lagi pula, setelah kita lulus kemudian pulang ke tanah air, kita belum punya jaminan pekerjaan. Sementara mencari pekerjaan di Indonesia sangat sulit,” jawabku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Saat ini, satu-satunya yang kumiliki juga akan meninggalkanku, yaitu kau. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali nyawa ini,” sambungku.

Dia menatapku. Dia selalu menatapku saat aku berbicara. Dia juga suka mengenakan jaket unta bila musim dingin dan menyukai hijab pashmina berwarna hitam.

Apartemen yang aku tempati dengan apartemennya tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan lima belas menit dengan bersepeda. Dan jika akhir pekan dia akan sering menghabiskan waktu ke Bondi Beach.

Tempat itu terletak sekitar empat mil di sebelah timur pusat bisnis Sydney. Biasanya kami akan menghabiskan waktu pagi hingga sore menjelang. Di sana ada deretan tebing-tebing yang memukau, serta pasir putih yang bersih. Yang tidak akan kami lewatkan adalah melihat gerombolan paus di kejauhan dari bibir pantai.

“Pulanglah bersamaku. Kita akan membangun rumah tangga di sana. Apa kedengarannya tidak masuk akal?” katanya.

“Tuhan menciptakan langit dan bumi. Tentu saja Dia juga menciptakan kehidupan bersama rezekinya. Kau tidak perlu khawatir dengan itu,” sambungnya.

***

Pagi itu, aku membuka gorden. Terlihat langit amat cerah, meskipun udara di luar dingin. Tidak ada salju di Sydney. Salju tidak ada di sini karena letaknya di belahan bumi selatan dan kondisi iklimnya tidak mendukung terjadinya salju. Meskipun tidak ada salju di Sydney, tetapi kadang-kadang suhu mencapai 8,8 °C.

Biasanya, di pagi hari sebelum masuk kuliah, aku menyempatkan diri untuk minum kopi dan membaca buku atau membaca surat kabar kalau tidak sedang memasak. Aku sudah terbiasa hidup sendiri selama di Sydney. Aku juga sadar bahwa, jika kembali ke Indonesia, aku tidak punya rumah untuk pulang.

Aku sudah nyaman tinggal di sini dan aku pun merasa bahwa di sini sudah menemukan tempat yang cocok bagi diriku sendiri. Tetapi, pemerintah sudah dua kali memperingatkan bagi mahasiswa penerima, termasuk diriku, untuk kembali pulang ke Indonesia setelah selesai studi.

Asap tipis yang berasal dari secangkir kopi itu melayang-layang. Aromanya harum, mengingatkanku pada suatu lorong waktu yang jauh meninggalkanku. Waktu kecil, aku sering meminum kopi bapak yang dibuatkan oleh ibu di pagi hari sebelum bapak pergi ke kebun tembakau. Bapak sering meniupkan kopi itu supaya tidak panas jika aku minumnya. Kopi ternikmat adalah kopi buatan ibu untuk bapak.

Di kampung, aku masih punya rumah. Saat ini dibiarkan kosong. Meskipun begitu, aku tetap enggan untuk menempati rumah itu. Rumah yang tidak ada keluarga di dalamnya bukanlah rumah untuk pulang. Sama halnya, meskipun musim dingin, tidak ada salju di Sydney.

Tinggalkan Balasan