Tak Ada Salju di Sydney

Tetapi sesekali, aku ingin suatu saat berziarah ke makam bapak dan ibu serta nenek. Aku juga sempat berpikir untuk kembali ke Yogyakarta setelah program masterku selesai. Sebab Yogyakarta adalah rumah kedua bagiku.

Tiba-tiba, dari luar ada orang yang mengetuk pintu. Ketukan itu berbunyi lagi. Seketika aku mulai berjalan menuju pintu. Aku intip dari gorden, dia adalah Elisa, bukan petugas pengantar koran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku membuka pintu. Gadis itu benar-benar cantik menurutku, entah penilaian orang lain. Mata dan senyumnya begitu sempurna. Dia mengajakku untuk pergi ke Hyde Park. Aku tidak akan bisa menolak ajakannya.

Kami bersepeda menyusuri jalan Elizabeth dan St James Road. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke taman tertua di kota Sydney itu. Meskipun tidak bersalju, kami tetap kedinginan jika tidak memakai jaket dan kaus kaki yang tebal.

Kami bersepeda dengan pelan. Di kota ini, kendaraan tidak terlalu padat, sehingga jarang ada kemacetan. Karena pajak kendaraan pribadi yang mahal, orang-orang lebih memilih memanfaatkan transportasi umum untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Setelah sampai, kami duduk di kursi panjang. Gadis itu membuka tasnya kemudian mengeluarkan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

“Kau tidak ingin menanyakan mengapa aku suka novel-novel dan cerpen-cerpen Pak Tohari?” ianya Elisa kepadaku.

Meskipun aku sudah sedikit atau banyak tahu tentang karya-karya Pak Tohari, namun aku ingin mendengar alasan darinya.

“Memangnya kepada?” tanyaku.

Dia menarik napas dan menatapku.

“Setiap aku membaca karya-karya Pak Tohari, aku menemukan kampung halaman. Jika aku rindu dengan kampung halaman, aku selalu membaca novel Pak Tohari,” ucapnya.

“Pulanglah bersamaku, kau akan menemukan kebahagiaan di sana,” sambungnya.

Aku terdiam sejenak, dan hanya menganggukkan kepala, seperti ketika dia mengungkapkan hal-hal yang sentimentil.

ilustrasi: imseeingthing.

Tinggalkan Balasan