Tak Sebusuk Bau Kentutku

Pak Hamdan tertawa. Pontang-ponting aku berusaha menguasai diri.

“Kamu makan berapa kali hari ini?” tiba-tiba pertanyaannya beralih tema. Entah apa maksud ucapannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tiga kali,” aku menjawab jujur.

“Di kantin?”

Aku mengangguk. “Aku masih sakit, jadi tidak masak sendiri,” ucapku.

“Jadi, biasanya kamu masak sendiri?”

Lagi-lagi aku mengangguk.

“Berarti uangmu masih banyak minggu ini?” interogasi masih berlanjut. Kujawab lagi pertanyaan itu dengan anggukan kepala.

“Uang dari mana?”

Tersengat kembali jantungku.

“Kiriman bapak.”

Tiba-tiba Pak Hamdan mengeluarkan HP dari sakunya. Sebentar kemudian tangannya berkutat dengan benda kecil berisi banyak hal itu.

“Kau lihat ini,” perintahnya. Ia ulurkan HP itu. Aku mengambilnya dengan penuh tanda tanya. Apa lagi maksud orang ini?

Terlihatlah sebuah video di dalam HP itu. Aku menontonnya dengan jantung berdebar-debar. Tubuhku terasa semakin lemas. Keringat dingin membasahi keningku. Aku lihat diriku sendiri dalam video itu. Tenggorokanku terasa kering. Dan mataku sembab oleh air mata.

“Tonton video itu sampai habis!” tegas Pak Hamdan, dan aku tak lagi sanggup menatap mata orang yang kukenal bengis itu. Kulanjutkan lagi menonton videonya. Menebal rasanya mukaku menahan malu melihat bejatnya ulahku sendiri.

Aku masuk sebuah kamar dengan mengendap-endap. Tidak ada orang di dalam. Lalu aku mengintip ke luar, lalu aku masuk lagi. Kuamati sudut-sudut kamar yang lengang. Kemudian kubuka sebuah pintu laci. Kuobrak-abrik jajaran buku yang tertata rapi. Lalu aku pindah ke laci lain setelah tak menemukan apa-apa. Kulakukan hal itu hingga ke beberapa laci lain sampai akhirnya aku menemukan sejumlah uang. Aku lantas keluar kamar setelah menata kembali bagian-bagian yang kubuat berantakan.

Air mataku meleleh. Terpampang jelas wajah bapak dan makku. Terguncang jiwaku oleh rasa sesal. Hancur semua harapan orang tuaku jikalau melihat video ini. Bagaimana tidak hancur melihat anak yang digadang-gadang untuk menjadi pelita di masa depan ternyata menjadi maling di pesantren, tempat yang dianggap sebagai sebuah kawah candradimuka untuk mencetak orang-orang saleh?

“Kau tak perlu tahu dari mana aku dapatkan video itu. Yang jelas ini adalah bukti bahwa kaulah orang di balik hilangnya uang milik beberapa santri akhir-akhir ini. Pertanyaannya, kenapa sampai kau tega melakukan ini?”

“Uang kiriman bapak telat, Pak. Aku butuh uang untuk menyadur hidup dan sekolah di sini,” tukasku.

“Masih ada keinginan untuk mencuri lagi?”

“Tidak Pak,” kujawab dengan suara parau.

“Berjanjilah tak akan mengulanginya lagi.”

“Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi Pak.”

“Sebenarnya bisa saja aku menghukummu di muka para santri lain. Tapi aku ingat siapa bapakmu. Dia orang baik yang sangat menginginkan kesuksesanmu. Terimalah ini, titipan bapakmu.”

Kejutan Pak Hamdan yang kukenal kejam itu belum usai rupanya. Kuambil amplop itu dengan tangan gemetar. Bayangan wajah bapak yang lelah muncul di pelupuk mata. Aku berterima kasih pada Pak Hamdan dan mencium tangannya. Dengan langkah yang berat aku pergi meninggalkan kantor keamanan itu.

Seminggu kemudian Bapak dan Mak datang ke pondok mengirimkan uang dan makanan padaku. Dan kuketahuilah ternyata bapak tak pernah menitipkan uang pada Pak Hamdan. Aku semakin merasa malu. Ternyata selama ini penilaianku terhadap orang kejam itu salah, hatinya tak sebusuk bau kentutku.

One Reply to “Tak Sebusuk Bau Kentutku”

Tinggalkan Balasan