Tak Sebusuk Bau Kentutku

“Makan nasi, Pak,” jawabku.

Pak Hamdan terdiam. Kedua alisnya bertaut dengan kening yang berkerut-kerut. Lalu aku menunduk lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kalau malam?”

“Minum susu, Pak. Sialan, ngajak main tepuk ami-ami malah orang ini,” gerutuku dalam hati.

Alih-alih mengucapkannya dengan lisan, aku justru diam mematung menunggu reaksinya.

“Maksudku kau makan pakai apa?”

“Kadang piring, kadang nampan, Pak. Seperti lazimnya para santri.”

Pak Hamdan berdiri. Aku ingin tahu, seberapa kuat dia menahan umpatan yang bercokol dalam hatinya?

“Bentar. Aku mau wudhu dulu. Aku harus mengusir setan yang berdatangan karena meladeni ucapanmu. Takut ruangan ini terbakar amarah,” ucapnya seraya melangkah keluar. Aku semakin terdiam. Rasa cemasku belum berakhir. Apa aku harus melarikan diri? Ah, aku tak se-pecundang itu.

Sembari menunggu Pak Hamdan datang aku mengamati ruangan 2 X 3 ini. Di sekeliling tembok terpampang foto para masyayikh. Kutemukan keteduhan di wajah mereka. Lama kelamaan aku malu sendiri memandang mereka setelah membandingkan dengan diriku yang sering abai dengan peraturan pondok.

Tiba-tiba perutku terasa kembung dan ingin kentut, mumpung pengurus keamanan itu belum datang, cepat-cepat aku mengangkat pantat untuk mengeluarkan angin. Dan alhamdulillah, berhasil. Perutku terasa longgar kembali. Kecemasanku berkurang.

Sialnya tiba-tiba Pak Hamdan masuk ke ruangan, padahal aku sedang berusaha keras menghisap bau busuk hasil emisi gas barusan. Aku sangat berharap dia masih merokok biar udara berbau busuk yang memenuhi ruangan ini segera ternetralkan. Sayang sekali, dia datang dengan tangan hampa. Sempat kulihat hidungnya kembang-kempis, aku sangat malu. Pasti racunku mulai menyerang hidungnya.

“Hidungku buntu sedari tadi. Penuh dengan umbel,” ucapnya ketika meletakkan pantatnya di kursi depanku. Seketika aku merasa lega. Selain karena dia menjadi kepala keamanan, aku segan padanya karena bapakku sering buruh di sawah milik orang tuanya. Keluarga Pak Hamdan adalah salah satu ningrat yang ada di desaku. Untuk itulah aibku tak boleh tercium oleh hidungnya. Namaku akan semakin busuk di hadapannya.

“Kemarin kamu masuk sekolah?” tanyanya.

Aku lemas. Keringatku semakin deras keluar.

“Kamu dengar suaraku?”

“Dengar, Pak.”

“Apa jawabanmu?”

“Kemarin aku tidak sekolah, Pak.”

“Kenapa? Tak tahu kau bagaimana lelahnya bapakmu mengais rezeki? Tak tahu kau betapa dia sangat mengaharapkanmu menjadi orang kelak? Dia sering bertanya tentangmu ketika aku pulang. Dia sangat bangga bisa menyekolahkan dan memondokkanmu! Dia merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia karena keberadaanmu di sini! Tak dia rasakan lelahnya membanting tulang karena terlalu besar harapannya atas kesuksesanmu dalam menuntut ilmu! Lalu apa balasanmu???”

Suara menggelegar itu seolah merontokkan dadaku. Tapi aku harus tenang meladeni retorikanya.

“Kemarin perutku sakit sekali, Pak. Aku izin tidak sekolah,” telah aku kuatkan lidah dan dadaku dan wajahku untuk mengelak dari tuduhannya. Bapak tak boleh tahu aibku.

“Berarti kamu dengar berita gaduh di asramamu?” tanya Pak Hamdan.

“Saya di poliklinik, Pak. Sama sekali tidak tahu berita gaduh di asrama.”

“Jadi kamu tidak tahu ada kemalingan di asramamu?”

“Tidak, Pak,” jawabku cepat.

One Reply to “Tak Sebusuk Bau Kentutku”

Tinggalkan Balasan