Pematangsiantar, 25 November 2024.
DUA SAJADAH

Aku mencari ilusi di tubuh agama
menggantung perasaan di pinggir dinding ibadah
agar Raqib-Atid tak berpura-pura buta dan tuli
bahwa Tuhan yang aku sembah
laiknya Tuhan yang kau sembah
sebab itu
kau yang bersengkela di ubun-ubunku ini
adalah kesedihan yang kudaur ulang dengan cara beribadah
meneguhkan seluruhku, atas sisa-sisa sembab
yang mencuat
pada beberapa malam yang patah.
Sesungguhnya, aku berpuasa atasmu, Kekasih.
Maka pada bulan-bulan yang bukan Ramadan
penuh aku berpuasa
tak menghidu aroma tubuhmu
atau meneguk secangkir senyum
mengunyah bangkai perasaan
dan aku hanya menekuri subuh berulang-ulang
menjadi seorang santri
bertaharah dari lautan nafsu
yang acapkali pasang surut.
Aku ingin berzuhud
menjadi imam di hari kemudian
sujud di atas dua sajadah
kado pernikahan.
