BERLAYAR KE PULAU DEMAM
Dan huruf-huruf yang menetas dari tanganku,
hanya bangkai yang tak lagi wangi,
bagi seekor lalat.

Aku bukan majusi
tumbal yang saban hari dinyalakan
sekadar menyelimuti
malam-malam gigil.
Meski sungai di mataku hampir kering
aku tetaplah penyair yang berlayar ke pulau demam
kesibukanku mencari penawar
atas tubuh yang tak henti gemetar
dihantam percapakan usang
hingga pudar menjelma kafan.
Di tengah musim yang berdebu
aku menyimpan seruanku
pada dingin bebatuan
dan mendaras nasib
untuk seluruh nasab
yang bersetubuh —binar ukhrawi.
Sedang doa ibuku
lebih tajam dari nasib yang cacat
lalu aku merawatnya
dalam dua perasaan:
Kesempatan membalas jasa
kesedihan menjelang tiada
