Tanah Mak Ru

Namun semenjak pemerintah menetapkan kota Mak Ru sebagai kota wisata, penduduk tidak lagi memiliki kebebasan seperti dulu. Mereka yang masuk harus memiliki kartu anggota, dan jam mereka pun dibatasi. Tak sembarang waktu bisa masuk. Perlahan tapi pasti mereka telah kehilangan lauk untuk makan sehari-hari.

Pemuda-pemudi desa memilih bekerja pada pemerintah. Menjadi pegawai di tempat wisata, kemudian membuka kedai dan pertokoan. Desa yang dulu sunyi, kini menjadi ramai. Telur-telur burung hutan semakin susah didapat akibat terusik kedatangan manusia kota. Mereka pun dilarang mencari kayu bakar di hutan pinggir desa. Konon itu menjadi hutan yang dilindungi, dan akan menjadi tujuan pariwisata. Akan dibangun berbagai fasilitas untuk mewujudkan itu semua. Hanya tinggal sedikit dari penduduk desa itu yang memakai kayu bakar untuk memasak. Mereka disarankan oleh kepala desa untuk menggunakan tabung gas yang diperuntukkan bagi orang miskin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mak Ru termasuk mereka yang sedikit masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Ia membiarkan tabung gas dari pemerintah teronggok di sudut ruangan. Seringkali Mak Ru kesulitan, bahkan ketika aku disuruh mencari tabung gas ketika habis hingga ke desa tetangga, gas itu juga masih tak kunjung kudapatkan. Akhirnya aku mencari kayu bakar dengan diam-diam. Dan kadangkala jika kepala desa memergokiku, ia akan menegurku, dan mengatakan, “”Sebentar lagi, aturan untuk mencari kayu bakar akan benar-benar diterapkan. Siapa yang melanggar akan dikenakan denda, atau ditangkap dengan hukuman kurungan tertentu.”

Mak Ru tersengal-sengal lagi. Kepala desa datang dengan tergesa dan langsung masuk ke dalam rumah.

“Mak Ru harus segera dibawa ke rumah sakit. Batuk Mak Ru sudah terlalu parah. Di sini, saya sebagai kepala desa banyak sekali urusan yang tidak bisa saya tinggalkan. Maka lebih baik Mak Ru pergi bersama bapak-bapak ini, untuk diobati. Bukankah bapak-bapak ini, yang akan menanggung segala pengobatan?”

Aku melihat tatapan Mak Ru. Matanya mendelik demikian tajam. Napasnya mendengus seperti memendam amarah. Dan dalam batuknya, Mak Ru, mengeratkan tangannya sehingga aku mendengar bunyi gemeratak.

Kepala desa menyuruh salah seorang untuk mengambil mobil di rumahnya.

Aku tahu Mak Ru berusaha berontak. Namun tak ada yang menghiraukannya. Aku mencoba menghalangi, tapi siapalah aku yang dengan mudah disingkirkan dengan satu pelototan mata. Aku akhirnya mundur teratur. Mak Ru menatapku, seolah mengharap aku menolongnya supaya ia tidak dibawa pergi. Namun aku benar-benar tidak berdaya.

Tinggalkan Balasan