Tanah Mak Ru

Mak Ru masuk ke dalam mobil. Aku berharap-harap cemas. Beberapa orang mengiringi kepergian Mak Ru yang akan diobati di rumah sakit kota. Aku dilarang oleh mereka untuk ikut.

Setelah itu, dua orang asing masuk ke dalam rumah atas perintah kepala desa. Tentu aku berusaha melawan sebisaku. Namun badanku terlalu kecil untuk mereka yang kekar. Mereka mengobrak-abrik seisi rumah, dan ketika mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu sertifikat tanah, mereka keluar. Aku menahan kaki mereka, tetapi dengan satu sepakan akhirnya aku terjengkang. Mereka pergi. Dan aku hanya menunggu dengan meratap, berharap Mak Ru segera pulang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku meringkuk di balai rumah hingga malam. Hingga kudengar orang-orang menangis. Betapa aku ingin menghambur ke luar, tetapi orang-orang menghalangiku. Dalam jejalan begitu banyak orang, kulihat Mak Ru sudah tak berdaya. Matanya memejam. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Aku meraung, dan beberapa orang menangkapku. Beberapa orang mendekatiku, dan mencengkeram kerah bajuku.

“Rumah begitu berantakan. Tak ada surat tanah Mak Ru. Kau pasti yang mengambilnya.”

Aku mencoba mengelak, tetapi orang-orang yang tadinya menangisi Mak Ru, ikut mengerumuniku. Mereka mengeroyokku. Kuterima hantaman di pipi, di rahang, di leher. Aku tak mampu melindungi diriku sendiri. Hingga bibirku berdarah.

“Pantas saja Mak Ru tidak mau menjual tanahnya. Dasar bocah penghasut!”

Itulah kalimat terakhir yang kudengar hingga aku tidak mengingat apa pun.

Ciputat, 13 Agustus 2021.

Tinggalkan Balasan