Pemuda itu bernama Amir.
Ia tengah membolak-balik buku,
ditemukannya sebuah gambar bertuliskan,
“tragedi pembakaran perpustakaan Baghdad tahun 1258.”
Ia larut dalam angan,
membawanya pada lorong waktu
yang amat suram.

Dari balik almari buku,
Hasan menyadarkan Amir.
Ia sadar, bahwa buku adalah senjata
untuk membangun peradaban.
“Janganlah terulang kisah 1258
di dunia modern
dengan matinya buku dan pengetahuan!”
Oktober 2024.
BUYA HAMKA DAN SECARIK KERTAS*
Mentari siang tak bersahabat,
teriknya begitu menyengat.
Di tengah keringnya tenggorokan,
ia bersikeras memanas.
Jam dinding rumah Buya berdentang,
pertanda pukul 11.00 siang.
Waktu berpuasa masih berlanjut
hingga mentari terbenam.
Di tengah penungguan,
tiba-tiba segerombol orang datang,
memasang wajah garang.
Buya tengah bersantai dan membaca buku.
Sang istri membukakan pintu,
menyilakan mereka bertemu.
Buya masih mengenakan sorban
pada leher yang penuh perjuangan.
Tepat 27 Januari 1964,
orang-orang itu membawa paksa Buya
dilarikan ke Sukabumi.
Buya diperiksa tanpa henti,
pagi-petang hingga bergulir kembali petang-pagi.
Siang-malam silih berganti.
Waktu-waktu tak tersisa
untuk membaca buku
apalagi menyeduh secangkir kopi.
Biasanya Buya menghabiskan malam
untuk menuliskan ilmu dan pengetahuan.
Namun hari ini,
Buya pasrah diri.
Waktu tersisa untuk makan
dan sembahyang menghadap Gusti.
Kesalahan mana yang hendak dicari?
Mereka memaksakan hal yang sama
berulang kali.
Buya bukan pengkhianat negeri sendiri.
Polisi itu menyimpan pistol
yang sigap menembak sasaran,
membuka bukti, katanya.
Ruang hati Buya mengelam,
telinganya menuli
Kalimat kasar itu menyayat
dan merobek hati.
“Saudara pengkhianat!”
Mata Buya menatap tajam,
keringat dinginnya mengucur,
tubuhnya bergetar.
Buya menahan amarah
yang hendak menuntut balas.
Namun sabarnya amat luas,
Ia menghela napas.
Bisik iblis menghampiri;
“Gulirkan saja silet pada nadi!”
“Nyawa hilang, mati!”
Nadi itu bergeming; “imanku bukan abal-abal
Yang seenaknya saja diobral.”
Tak patah, tak henti
pena menyapu tinta begitu lihai.
Buya mencurahkan pikir;
Pada carik demi carik kertas.
Malam demi malam silih berganti,
hari demi hari silih berhilir.
Satu judul buku telah usai, “Tafsir Al Azhar”
“Adakah pujangga seberani Buya ber-reinkarnasi?”
Wonosari, 15 Oktober 2024.
