Pembacaan yang lebih konseptual disampaikan Dr. Ganjar Harimansyah. Ia menawarkan cara pandang yang berusaha keluar dari pembacaan yang terlalu cepat menempatkan Taufiq Ismail semata-mata sebagai “penyair Angkatan ’66”, penyair demonstrasi, atau penyair protes.
Label tersebut memang memiliki dasar sejarah. Namun, menurut Ganjar, label itu tidak cukup untuk menjelaskan perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail yang panjang.

Taufiq Ismail telah mulai menulis sejak dekade 1950-an dan terus bergerak melewati beragam persoalan: perang, perlawanan, kerinduan, ketuhanan, kemiskinan, pembangunan, kerusakan lingkungan, korupsi, demokrasi, birokrasi, hingga persoalan moral dan spiritual.
Dari sinilah Ganjar menawarkan istilah “penyair hati nurani publik” (poet of public conscience) untuk memahami posisi Taufiq Ismail.
Istilah tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam Semaan Budaya. Taufiq Ismail tidak sekadar ditempatkan sebagai penyair politik. Di balik puisi-puisi politiknya terdapat persoalan etis yang lebih luas: bagaimana manusia mempertahankan martabat, kebebasan, iman, dan tanggung jawab ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Indonesia menjadi tanah pijakan kepenyairan Taufiq Ismail, tempat sejarah, kegelisahan, dan kenyataan sosial menemukan jejaknya dalam puisi. Namun, cakrawala yang dituju puisinya melampaui batas tanah tempat ia berpijak: kemanusiaan.
Dengan perspektif tersebut, puisi Taufiq Ismail dapat dibaca kembali bukan hanya sebagai dokumen sebuah zaman, melainkan sebagai suara yang terus mengajukan pertanyaan moral kepada zaman-zaman berikutnya.
Puisi sebagai Memori Kolektif
Jika Ganjar melihat Taufiq melalui perspektif hati nurani publik, Zaky Mubarok atau Angin Kamajaya, dosen, penulis dan sekaligus pengasuh Semaan Puisi, menyoroti hubungan karya-karya Taufiq Ismail dengan ingatan bersama masyarakat.
Lewat karya-karyanya, Taufiq Ismail membersamai memori kolektif kita. Puisi-puisinya menjadi semacam penanda bagi berbagai peristiwa yang pernah dialami bangsa Indonesia. Ketika sejarah berubah menjadi angka, tanggal, dan catatan dalam buku pelajaran, puisi memberikan kemungkinan lain: sejarah diingat melalui perasaan.
Puisi tidak selalu bekerja dengan cara menjelaskan sebuah peristiwa. Ia dapat bekerja dengan membuat kita merasakan kembali sesuatu yang pernah terjadi. Karena itu, karya Taufiq Ismail yang lahir dari pergulatan dengan zamannya tetap memiliki kemungkinan untuk dibaca oleh generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.
Mendaras: Membaca Kembali, Menghidupkan Kembali
Di titik inilah kata “mendaras” dalam Semaan Puisi Edisi 136 memperoleh makna penting. Acara tersebut bukan sekadar pembacaan puisi. Mendaras mengandung semangat membaca secara perlahan, berulang, dan mendalam; memasuki kembali teks, menyusuri lapisan-lapisan makna, serta mempertemukan pengalaman penyair dengan pengalaman pembaca hari ini.
Dengan demikian, mendaras puisi Taufiq Ismail berarti membaca kembali bukan hanya puisinya, melainkan juga zaman yang melahirkan puisi tersebut.

Betapa semaraknya acara di saat itu,,,