Puisi-puisi Taufiq Ismail dibacakan oleh penyair dan pembaca dari lintas generasi: Jose Rizal Manua, D. Kemalawati, Fatin Hamamah, Helvy Tiana Rosa, Devie Matahari, Imam Maarif, Anzar Mustikowati, Fikar W. Eda, Beni Satri, Gilang Eka Sulaeman, dan Ario Srengenge, serta dimeriahkan oleh Kelompok Hadrah Banjari Assalam.
Kehadiran para pembaca dengan latar, generasi, dan karakter vokal yang beragam membuat karya-karya Taufiq Ismail mengalami semacam kelahiran kembali. Teks yang ditulis dalam konteks sejarah tertentu berpindah ke suara-suara baru. Dari suara-suara itulah muncul kemungkinan pembacaan dan makna yang baru pula.

Tirani dan Benteng, misalnya, tidak lagi semata-mata terdengar sebagai suara anak muda yang berhadapan dengan situasi politik pada 1960-an. Ketika dibaca oleh generasi yang hidup jauh setelah peristiwa tersebut, kedua karya itu dapat berubah menjadi cermin untuk melihat kembali hubungan antara kekuasaan, kebebasan, keberanian, dan suara masyarakat.
Puisi tidak berhenti sebagai arsip sejarah. Ia bergerak menjadi pertanyaan: apa yang berubah dari zaman itu, dan apa yang ternyata masih berulang dalam kehidupan kita?
Pertanyaan serupa kembali mengemuka ketika “Kembalikan Indonesia Padaku” dibacakan siang itu oleh penyair Aceh, Devie Matahari. Dari larik-larik yang ditulis Taufiq Ismail di Paris pada 1971, Indonesia hadir bukan sebagai sekadar nama sebuah negeri, melainkan sebagai ruang kegelisahan yang terus dipertanyakan: tentang penduduk, beban kehidupan, masa depan, dan nasib manusia yang hidup di dalamnya.
Jarak waktu lebih dari lima puluh tahun ternyata tidak serta-merta membuat puisi itu kehilangan daya gugah. Sebaliknya, ketika dibaca kembali hari ini, metafora tentang Indonesia yang “tenggelam” justru mengundang kita untuk bertanya: apa yang sesungguhnya sedang tenggelam, dan Indonesia seperti apa yang ingin dikembalikan oleh penyair kepada kita?
Dari Ladang Jagung hingga Sajadah Panjang
Pembacaan atas Taufiq juga tidak berhenti pada sejarah dan politik. Sajak “Ladang Jagung”, misalnya, membuka percakapan tentang hubungan manusia dengan alam. Ketika dibaca dalam konteks hari ini, puisi tersebut memperoleh resonansi baru di tengah persoalan kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, dan pembangunan yang berhadapan dengan keberlanjutan ruang hidup.
Di tangan para pembaca lintas generasi, karya-karya Taufiq Ismail mengalami dialog antarzaman. Penyair yang mulai menulis pada dekade 1950-an berbicara kepada pembaca pada 2026. Pengalaman generasi lama bertemu dengan kegelisahan generasi baru. Peristiwa yang telah berlalu dibaca kembali dari pengalaman hari ini.
Karena itu, sejak didirikan pada 28 Oktober 2023, Semaan Puisi tidak dimaksudkan sekadar menjadi ruang nostalgia terhadap para penyair dan masa lalu kesusastraan Indonesia. Masa lalu justru ditempatkan sebagai cermin untuk membaca kembali keadaan hari ini, sementara penyair dan karya-karyanya menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan membaca kembali puisi, kita bukan hanya mengenang apa yang pernah ditulis, tetapi juga menguji kembali daya hidup gagasan, kegelisahan, dan pengalaman manusia yang terkandung di dalamnya. Di situlah Semaan Puisi menemukan relevansinya: menjadikan puisi sebagai ruang perjumpaan antargenerasi, tempat masa lalu tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan terus berdialog dengan zaman yang sedang kita jalani dan masa depan yang sedang kita bayangkan.
Membaca dan membicarakan Taufiq Ismail hari ini, dengan demikian, bukan sekadar menoleh ke masa lalu, melainkan bercermin pada keadaan kita sendiri. Puisi-puisinya mengajak kita kembali bertanya: bagaimana kita memperlakukan kekuasaan, merawat lingkungan, mempertahankan kebebasan, menjaga ingatan sejarah, serta merawat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.
Pada titik itulah puisi menemukan salah satu fungsi terdalamnya: bukan memberikan jawaban yang selesai, melainkan menjaga agar pertanyaan-pertanyaan penting tidak pernah mati. Mendaras puisi berarti menjaga pertanyaan itu tetap hidup. Tentang kekuasaan dan kebebasan. Tentang ingatan dan sejarah. Tentang lingkungan yang terus berubah. Tentang iman dan kegelisahan manusia. Tentang keberanian bersuara ketika suara publik berhadapan dengan kekuasaan.
Sebab selama pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup, puisi pun belum selesai berbicara. Dan selama puisi masih berbicara, kita masih memiliki kesempatan untuk mendengar kembali suara kemanusiaan di dalam diri kita sendiri.

Betapa semaraknya acara di saat itu,,,