Toan Karaeng, yang dikenal masyarakat Pulau Masalembu sebagai seorang ulama besar, tokoh masyarakat, pejuang, dan perintis permukiman, merupakan salah satu sosok yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah lisan masyarakat Masalembu, Kabupaten Sumenep. Ia diperkirakan hidup pada sekitar abad ke-19. Ia dikenang tidak hanya karena kiprahnya dalam penyebaran agama Islam, tetapi juga keberaniannya menghadapi kekuasaan kolonial Belanda.
Menurut riwayat yang berkembang di masyarakat, nama asli Toan Karaeng adalah Sayyid Yahya As-Sumbul, seorang keturunan Arab dari marga Hadhramaut, Yaman. Ia disebut berasal dari Sulawesi dan pernah menuntut ilmu agama Islam hingga ke Makkah. Perjalanan keilmuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting bagi kiprahnya sebagai ulama dan pembimbing masyarakat di wilayah kepulauan.

Asal-Usul dan Gelar Toan Karaeng
Nama Toan Karaeng memiliki makna dan kedudukan tersendiri dalam tradisi masyarakat setempat. Sebutan Toan dan Karaeng berkaitan dengan istilah kebangsawanan yang dikenal dalam budaya Sulawesi, khususnya Makassar. Karaeng secara umum merujuk kepada raja atau bangsawan, sedangkan sebutan Toan (Tuan) menjadi bentuk penghormatan kepada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi.
Gelar tersebut diyakini berkaitan dengan latar belakang keluarga dan kedudukan sosial Sayyid Yahya. Perpaduan antara garis keturunan bangsawan, nasab Hadhrami, dan kedalaman ilmu agama membuat sosoknya memperoleh penghormatan yang kuat dari masyarakat.
Perintis Permukiman dan Penyebar Islam
Toan Karaeng dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam membabat alas dan membuka wilayah permukiman awal di Pulau Masalembu. Pada masa ketika wilayah tersebut masih berupa kawasan yang belum banyak dihuni, pembukaan lahan dan pembangunan permukiman merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan keberanian, ketekunan, serta kemampuan menghimpun masyarakat.
Di tengah proses tersebut, Toan Karaeng juga menjalankan perannya sebagai ulama. Ia mengajarkan agama Islam, membimbing masyarakat, serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial. Karena itu, jejak perjuangannya tidak hanya dikenang sebagai perintis wilayah, tetapi juga sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan Islam di Masalembu.
Dalam tradisi masyarakat, pengaruh keagamaannya kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pulau. Ia dikenal sebagai figur yang menyatukan peran seorang ulama, pemimpin masyarakat, sekaligus pelindung dan pembimbing umat.
Tokoh Perlawanan terhadap Kolonial
Selain dikenal sebagai ulama dan pembabat wilayah, Toan Karaeng juga dikenang sebagai tokoh perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda di kawasan perairan utara Madura. Keberadaannya sebagai pemimpin yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat menjadikannya simbol keberanian dalam menghadapi tekanan kolonial.
Riwayat perjuangannya diwariskan terutama melalui cerita dan ingatan kolektif masyarakat. Dalam berbagai kisah lokal, Toan Karaeng digambarkan sebagai sosok yang tidak mudah tunduk kepada kekuasaan penjajah serta berusaha mempertahankan kehidupan dan kehormatan masyarakat di wilayah Masalembu.
Ketua NU Pertama di Masalembu
Dalam perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Masalembu, Toan Karaeng juga dikenal sebagai ketua Nahdlatul Ulama (NU) pertama di wilayah Masalembu. Kedudukan tersebut semakin menguatkan citranya sebagai ulama sekaligus pemimpin masyarakat.
Sampai saat ini tradisi NU cukup melekat pada masyarakat Masalembu. Secara umum tradisi ke-NUan begitu merata dan kentara di antara kehidupan keseharian masyarakat. Karena Toan Karaeng, hingga detik ini masyarakat Masalembu masih terus memegang teguh tradisi oragnisasi keagamaan terbesar di negeri ini.
Melalui peran keulamaannya, Toan Karaeng juga menjadi salah satu figur yang meletakkan dasar kehidupan keagamaan masyarakat Masalembu. Tradisi keislaman, pengajaran agama, dan kehidupan sosial masyarakat kemudian berkembang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat pulau.
Kisah Karomah dan Ingatan Masyarakat
Seperti halnya banyak ulama yang dihormati dalam tradisi masyarakat Nusantara, Toan Karaeng juga dikenang melalui berbagai kisah karomah. Salah satu cerita yang paling terkenal berkaitan dengan serangan Belanda terhadap wilayah tempat tinggalnya.
Menurut cerita rakyat yang berkembang di Masalembu, ketika Belanda mengarahkan meriam atau bom ke masjid dan kediamannya, senjata tersebut dikisahkan tidak berhasil meledak atau bahkan meleleh ketika mendekati kawasan tersebut. Kisah ini dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai salah satu bentuk karomah yang diberikan Allah kepada Toan Karaeng.
Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat setempat, sehingga perlu dipahami sebagai warisan cerita rakyat yang hidup dari generasi ke generasi, bukan semata-mata sebagai catatan sejarah tertulis.
Masih menurut kisah yang dituturkan dari lisan ke lisan, pada suatu waktu ada sebuah kapal yang kandas di area pesisir Masalembu bagian timur. Area tersebut cukup dekat ke kediaman Toan Karaeng. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kapal yang kandas dan terperangkap di atas karang. Namun hasilnya nihil.
Hingga kemudian Toan Karaeng berkenan membantu. Dengan karomah dan kharismatiknya, ia menaiki buritan kapal. Kemudian memerintahkan nakhoda untuk menyalakan mesin. Sambil membaca zikir, Toan Karaeng khusyuk berdoa di atas kapal.
Anehnya, kapal tersebut terbebas dari perangkap karang. Bagai tanpa rintangan bisa keluar dari jebakan karang. Sepertinya karang yang menjadi penyebab kandas, tiba-tiba lebur dan menjadi air laut. Sehingga kapal yang kandas terbebas dan bisa berlayar sebagaimana mestinya.
Makam dan Warisan Toan Karaeng
Toan Karaeng meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa tempat dan jejak sejarah, tetapi juga nilai-nilai keagamaan dan keteladanan. Perannya sebagai ulama, perintis wilayah, pemimpin masyarakat, dan tokoh perlawanan membuat namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Masalembu.
Makamnya hingga kini dikenal sebagai salah satu tempat yang dihormati dan diziarahi oleh masyarakat. Para peziarah datang untuk mengenang jasa dan perjuangannya, sekaligus mendoakan beliau.
Bagi masyarakat Pulau Masalembu, Toan Karaeng bukan sekadar nama dalam sejarah lokal. Ia merupakan simbol perjalanan awal masyarakat pulau: dari pembukaan wilayah, perkembangan permukiman, penyebaran Islam, hingga perjuangan mempertahankan martabat masyarakat di tengah tekanan kolonial.
Dengan segala kisah sejarah, tradisi lisan, dan legenda yang menyertainya, sosok Sayyid Yahya As-Sumbul atau Toan Karaeng tetap menjadi salah satu figur penting dalam ingatan kolektif masyarakat Masalembu. Warisannya mengajarkan tentang keberanian, ilmu, kepemimpinan, pengabdian kepada masyarakat, dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai agama serta martabat kehidupan masyarakat. Wallahu A’lam!
