Toleransi di Kampung Sawah Bekasi

Setelah acara selesai, tamu undangan diarahkan ke sebuah gazebo untuk sarasehan. Sekali lagi, chemistry para tokoh lintas agama di Kampung Sawah ini teramat harmoni, sudah di atas level toleransi. Terlihat dari obrolan yang begitu akrab dan banyak tawa, nyaris tiada obrolan yang mengernyitkan dahi.

Interakasi hangat saya dengan non-muslim tidak hanya malam itu. Beberapa waktu sebelumnya saya juga pernah diundang ke acara ulang tahun Gereja Katolik Servatius yang berdiri sejak abad ke-19 itu. Juga pernah diundang untuk mengisi sebuah acara di SMA Katolik Pangudiluhur, yang kesemuanya mewakili Pesantren Aksara Pinggir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saling mengundang ini sudah menjadi tradisi di Kampung Sawah. Maka tidak salah ketika kami, Pesantren Aksara Pinggir, pada acara Maulid Nabi juga mengundang sesepuh-sesepuh lintas agama. Selain itu, Pesantren Aksara juga kerap menerima tamu non-muslim dengan niat dan tujuannya masing-masing.

Menurut Romo Eko, toleransi di Kampung Sawah inilah yang mengantarkan Bekasi menjadi Kota nomor tiga paling toleran di Indonesia dengan indeks 6.080 versi Setara Institut. Romo Eko kerap menyatakan kepada kami, bahwa level Kampung Sawah bukan lagi toleransi, melainkan harmoni. Karena, kalau toleransi berarti ada yang ditoleransi, ada yang menoleransi. Tapi di Kampung Sawah sudah menjadi sesuatu yang alami, tanpa ada intervensi maupun paksaan.

Tinggalkan Balasan