Tradisi Pesantren dan Kesalahan Konseptual

Pandangan serupa pun datang dari Ismail Fajrie Alatas, sosok antropolog yang menulis What Is Religious Authority? Cultivating Islamic Communities in Indonesia (2021). Dalam unggahan Instagram Story-nya pada 16 Oktober 2025, Alatas menyinggung kecenderungan kalangan modernis dan liberal yang “selalu merasa paling tahu dan paling benar, tetapi gagal memahami kerumitan tradisi sebagai himpunan hidup.”

Menurutnya, semangat egalitarianisme modern seringkali melahirkan kesalahpahaman terhadap hierarki tradisional, seolah setiap bentuk ketundukan selalu identik dengan praktik penindasan. Padahal, dalam masyarakat tradisional seperti pesantren, sebuah hierarki justru menjadi jalan penting untuk membentuk moral, pengetahuan, dan kepribadian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Husein Muhammad dalam bukunya, Islam Tradisional yang Terus Bergerak (2019) menegaskan, bahwa kedudukan kiai tidak bersumber dari status sosial, melainkan dari moralitas, keluasan ilmu, ketulusan membimbing, serta kepribadiannya yang bersahaja.

Hal tersebut, juga sejalan dengan apa yang diungkapkan Zamakhsyari Dhofier dalam disertasinya, Tradisi Pesantren (2011), bahwa sikap tunduk santri kepada kiai bukanlah sikap alami, tetapi hasil proses panjang yang berdasar pada etika dan pertimbangan spiritual. Tradisi ini berpijak pada ajaran kitab Ta’lim al-Muta’allim, yang menempatkan adab sebagai dasar pencarian ilmu.

Dengan begitu, hierarki di pesantren bukanlah bentuk feodalisme yang selalu mengkultuskan sosok figur dengan segala jabatannya, melainkan struktur penghormatan terhadap ilmu dan moralitas. Ketundukan santri adalah latihan diri dalam kesabaran dan kerendahan hati.

Tinggalkan Balasan