Kampus pun mulai membuka ruang: program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pelatihan bisnis, hingga inkubasi usaha. Bagi sebagian mahasiswa, berwirausaha bukan lagi sekadar pelarian atau alternatif, tapi bagian dari cara hidup. Cuan sambil kuliah dianggap lebih realistis daripada hanya mengejar nilai tinggi. Apalagi, melihat realitas dunia kerja yang makin padat dan keras, banyak mahasiswa mulai berpikir: lebih baik mandiri sejak sekarang.
Namun di balik semangat itu, tidak sedikit pula yang terjebak dalam euforia “jadi bos sejak muda”. Banyak yang terjun tanpa ilmu dasar soal manajemen, pemasaran, atau tata kelola keuangan. Bisnis dibangun karena ikut-ikutan, bukan karena visi. Akibatnya, ketika hasil tak sesuai harapan atau tugas kuliah makin menumpuk, usahanya pun kandas begitu saja. Tak hanya itu, dukungan dari kampus juga masih minim. Ada yang membuka program inkubasi bisnis, tapi hanya aktif saat lomba atau seremonial. Bimbingan pun kadang masih bersifat teori, tanpa pendampingan lapangan yang berkelanjutan. Mahasiswa dibiarkan berjalan sendiri dalam dunia yang keras, tanpa mentor atau arahan jelas.

