Tuhan, Akal, dan Batas Nalar

Tafsir bukanlah sekadar upaya mengurai makna lafaz. Ia adalah seni menyentuh cahaya, menggali pelita, dan membimbing jiwa menuju Tuhan. Akal menjadi jembatan antara teks dan kesadaran, antara huruf dan hakikat.

Akal, bila digunakan melampaui batas, seperti kaca pembesar yang diarahkan ke matahari—tidak menambah terang, malah membakar. Tapi bila diarahkan ke ayat-ayat-Nya, baik yang tertulis maupun yang terbentang di semesta, justru akan memperbesar suatu hal yang kecil, menemukan suatu hal yang hampir tak terlihat, menjadi peta cahaya: menunjukkan arah kemajuan, kemaslahatan, dan keselamatan umat manusia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Al-Qur’an sarat dengan isyarat-isyarat saintifik, sosial, dan peradaban. Ia menantang kita:

> قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

(QS. Az-Zumar: 9)

“Tantanglah mereka dengan menunjukkan argumen dalam menyangkal bahwa “samakah antara orang yang berhasil menggunakan akal dan tidak?”

Maka gunakanlah akal bukan untuk menjebol tabir Tuhan, tapi untuk menangkap isyarat kemajuan, sesuai trayeknya. Bangunlah peradaban dari wahyu. Bangunlah teknologi dari ayat-ayat-Nya. Gali kedalaman sains dan sistem sosial dari struktur kalam-Nya yang sempurna.

Inilah yang saat ini harus kita galakkan, jangan hanya berkutat pada suatu hal yang stagnan atau bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat doktrin semata.

Dalam ilmu ushul fikih, terdapat kaidah penting:

> “ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب”

“Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak bisa ditunaikan, maka ia pun menjadi wajib.”

Maka jika membangun peradaban, menghidupkan keadilan, dan menciptakan kesejahteraan adalah perintah Allah, maka penggunaan akal dan ilmu untuk mencapainya pun menjadi fardhu kifayah atau bahkan fardhu ‘ain dalam konteks tertentu.

Tinggalkan Balasan