Tuhan, Akal, dan Batas Nalar

Ulama seperti al-Ghazali dan al-Razi telah menegaskan, bahwa menjaga akal adalah bagian dari maqashid al-syari’ah, (hifdzul aql), dan menggunakan akal adalah bagian dari menjalankan amanah kekhalifahan. Maka merawat akal, menyuburkannya dengan ilmu, riset, analis, penelitian dan bahkan perbandingan, artinya menjadikannya alat untuk menyelami Al-Qur’an dan menyusun solusi bagi umat, adalah bagian dari perintah agama.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ تِبْيَـٰنًۭا لِّكُلِّ شَىْءٍۢ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Annahl 89

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk, rahmat, serta solusi bagi orang-orang yang berserah diri.”

Akal adalah alat untuk menjadi khalifah, bukan untuk menjadi tuhan. Bukan hanya untuk menghakimi salah dan benar, bukan hanya tentang indoktrinasi. Maka ketika akal digunakan untuk meneliti, mencipta teknologi, membangun sistem ekonomi yang adil, menciptakan perangkat sosial yang menjamin kesejahteraan—itulah akal yang beriman.

Al-Qur’an tidak mengajarkan stagnasi. Ia mengajarkan gerak, inovasi, dan keterbukaan. Maka akal harus digunakan untuk mengembangkan pertanian, memberdayakan ekonomi, menciptakan alat kesehatan, bahkan membangun teknologi digital yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Santri hari ini bukan hanya penjaga kitab kuning. Ia adalah penjaga peradaban. Ia harus bisa membaca Shahih Bukhari dan membaca kode Python. Ia harus bisa mengkaji Nailul Authar dan sekaligus mengupas algoritma machine learning. Semua itu adalah bentuk dari ibadah tafakkur yang sejati.

نَرْفَعُ دَرَجَـٰتٍۢ مَّن نَّشَآءُۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌۭ

“Kami angkat derajat orang-orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan ada yang Maha Mengetahui.”

Jika pertanyaan tentang “Siapa yang menciptakan Tuhan?” membawa kita ke jalan buntu, maka pertanyaan “Apa yang Tuhan ingin aku lakukan?” membuka ribuan jalan peradaban.

Tugas akal bukan membongkar Tuhan, tapi memahami kehendak-Nya. Tugas akal bukan mencipta Tuhan, tapi menyambut petunjuk-Nya. Maka tunduklah, wahai akal. Tapi jangan mati. Karena justru dalam sujudmu, peradaban akan dibangun.

Cipasung, 20 April 2025.

Tinggalkan Balasan