Dalam trilogi ukhuwah yang diperkenalkan KH Achmad Shiddiq, dimaksudkan untuk menjadi fondasi bangunan relasi masyarakat Indonesia yang memang majemuk. Ukhuwah islamiyyah sebagai fondasi persaudaraan untuk sesama muslim; ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah sebagai fondasi persaudaraan untuk sesama manusia; dan ukhuwah wathaniyyah sebagai fondasi persaudaraan untuk sesama anak bangsa Indonesia.
Tiap-tiap ukhuwah tersebut memiliki dalil yang kuat dalam Islam. Untuk persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyyah), misalnya, ada hadits yang mendasarinya. Imam Muslim meriwayatkan suatu hadits dari sahabat Nu’man Ibn Bashir, Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad; jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.”

Pada hadits itu, Rasulullah menggambarkan persaudaraan sesama muslim itu bagaikan satu jasad. Bahkan, pada hadits riwayat Abu Musa, Rasul menggambarkan persaudaraan itu bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Kedua hadits tersebut secara tegas menjelaskan bagaimana pentingnya persaudaraan antara sesama muslim yang menjadikan kewajiban sebagian yang lain untuk mendorong rasa saling mengasihi, menyayangi, serta menolong hal selain kepada keburukan.
Untuk persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah), bisa didasarkan pada kitab Imam Bukhori dalam Bab Rahmat al-Nas wa al-Baha’im. Pada bab tersebut, Imam Bukhori mengawali dengan hadits riwayat Abu Hurairah yang menjelaskan apresiasi Nabi kepada orang yang menyayangi binatang yang kehausan, dengan sabdanya: “Ya pada setiap hati yang basah terdapat pahala,” setelah beliau ditanya: “Ya Rasul Allah, apakah kami mendapatkan pahala dari mengasihi binatang?”

One Reply to “Ukhuwah, Dalil dan Penerapannya”