Ulama dan santri bukannya tidak menyadari hal tersebut (kultur paternalism). Mereka sangat sadar, maka perilaku egosentrisme mereka kikis demi kemaslahatan umat. Demi menepis dan mengikis sikap egois, maka ulama dan santri bersikap tidak jemawa dengan menaati segala bentuk peraturan pemerintah yang membela kepetingan umat, tidak bersikap menolak atau justru makar, yang bisa merunyamkan publik. “Oleh iwak tanpa banyune buthek”, mendapatkan ikan tanpa membuat airnya keruh, menjadi ilham bagi ulama dan santri sebagai pihak penyelesai masalah, bukan malah menambah masalah atau justru menjadi bagian dari masalah.
Bersikap peduli, tidak memfatwakan yang berpotensi meresahkan, dan tidak kalah pentingnya, memberi ruang bagi ibadah secara daring, seperti pengajian online yang banyak digagas dan dibahas secara virtual, di kanal youtube, webinar, instagram, web browser, TV lokal, e-book, dan media sosial daring lainnya. Dengan begitu, perlunya adaptasi dengan dakwah gaya baru demi tetap berlangsungnya syiar, juga sebagai sosok yang secara paternalis ditokohkan dan cenderung ditiru oleh masyarakat.

Dalam masyarakat digital ini, misalnya, mengaji bisa lewat Internet. Ketika menghadapi permasalahan tentang agama, maka masyarakat tidak perlu bertatap muka dengan ulama ataupun santri. Cukup dengan searching atau googling. Quran online, portal media dakwah umat, aplikasi menghitung zakat, tata cara salat, berdoa, dan seterusnya, bisa belajar atau mengaji melalui internet. Di banyak negara, ulama dan santri telah beradaptasi dengan IT. Memiliki akun, portal web, kanal youtube, dengan ribuan bahkan jutaan santri yang tersebar. Hanya sekadar menyimak postingan, menjawab permasalahan umat, mengaji dengan menunggahnya di Internet, untuk memudahkan menyampaikan dakwah, menyapa, menanggapi, melalui update status, postingan, video, potongan mutiara hadits, kajian kitab, dan sebagainya. Ulama dan santri di Indonesia pun turut pula. Secara adaptif, juga menggunakan IT sebagai media dakwahnya. Pertimbangannya, kembali pada kultur paternalis, ulama dan santri menjadi tokoh di masyarakat.
