Ulama dan Santri di Masa New Normal

New Normal, sebagai cara hidup gaya baru tidak bisa ditolak, tidak bisa disangkal, dan tidak perlu menjadi kontroversial. Maka penyikapannya harus mainstream, tidak boleh konvensional (meski yang konvensional tidak begitu saja ditinggalkan). Media dakwah harus ada dalam genggaman. Jangan hanya berargumen pada kezuhudan atau matrealistisme. Namun, dakwah juga jangan sampai kalah, harus menunjukkan eksistensinya.

Apa yang dilakukan Jejaring Dunia Santri melalui duniasantri.co menjadi salah satu contohnya. Dengan konsep citizen journalism, ia menjadi wadah bagi para santri untuk menulis, beropini, berseni-sastra, menarasikan sosok ulama sebagai ibrah, sehingga kehadirannya turut menyemai kebaikan positif dengan konten yang bermanfaat dan bermaslahat. Pola dakwah harus menyesuaikan zaman (terlebih era New Normal). Menyesuaikan kemajuan IT dan mindset generasi masa kini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin, di zaman dulu pengajian atau tabligh akbar masih sangat menarik. Namun, seiring perkembangan IT, ulama dan santri perlu mengembangkan inovasi penyampaian dakwah. IT harus direspons positif, memanfaatkannya dengan bijak, mengisi dengan konten-konten yang dibutuhkan umat yang golek padhange ati, mencari pencerahan ketika menemukan permasalahan atau kesulitan.

Tinggalkan Balasan