Tak jarang kita temui sekelompok politikus mengolok-olokkan ayat Al-Quran demi melindungi kelompoknya dengan menggunakan keskralan agama. Juga dalam perdagangan dan aktivitas sosial lainnya, nama sesuatu, entah manusia, nama tempat, nama toko, busana, dan sebagainya banyak menggunakan simbol-simbol keislaman. Seperti toko barokah, baju muslimah, dan lain-lain. Padahal belum tentu si pengguna paham bagaimana kosep berkat dan muslim dalam ayat-ayat Al-Quran.
Imam As-suyuti sudah jauh-jauh hari membagi turunnya Al-Quran ke dalam dua bagian: turunnya ayat tanpa sebab dan turunnya ayat disertai dengan sebab. Dari situ kita lihat pentingnya memahami asbabun nuzul; mengapa ayat itu turun, atas dasar apa ayat itu turun.

Sebagai contoh kisah, seorang pemuda pada suatu hari datang kepada Rasul untuk menanyakan tentng syariat kepadanya. Kemudian turun ayat yang merespons pertanyaan yang diajukan pemuda tadi. Dan untuk menerjemahkan konsep syariat, juga perlu melihat asbabun nuzul itu.
Belajar asbabun nuzul bukan berarti kita diajak untuk mengikuti realitas masyarakat sewaktu Al-Quran diturunkan. Bukan karena Al-Quran diturunkan di Mekkah dan Madinah lalu dalam memaknainya disesuaikan dengan kedua daerah itu. Melainkan, dikaji ulang dan dipahami kembali malalui dekontruksi paham Al-Quran ke realitas saat ini. Mengingat, Al-Quran sebagai acuan kehidupan sejak diturunkan ke bumi sampai pada hari akhir nanti.
