Viral Belum Tentu Sahih

Banyak hadis yang tersebar di media online, baik berupa status WA, feed Instagram, atau berbagai postingan media sosial dengan tanpa menyertakan sanad yang jelas. Hal tersebut akan menyamarkan status hadis, apalagi jika postingan yang mengandung hadis tersebut menjadi viral dan kemungkinan besar akan diikuti bahkan diamalkan banyak orang.

Viral bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah jika hadis yang sudah telanjur viral itu ternyata bukan hadis yang seharusnya disebarkan atau hadis yang di dalam sanadnya terdapat cacat. Salah satu pertimbangan yang menjadikan hadis dikatakan sahih adalah sanad. Sanad adalah sandaran beberapa riwayat yang bermuara pada Nabi Muhammad Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallām. Ittiṣāl Sanad atau bersambungnya sanad pada Nabi Muhammad Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallām adalah poin terpenting di antara beberapa poin yang menjadi penentu suatu hadis sahih atau tidak, hadis yang boleh diamalkan atau hadis tidak boleh diamalkan, hadis yang boleh dipelajari atau tidak. Dan parahnya lagi, kebanyakan hadis yang ditemui di media sosial tidak menyertakan sanad yang nota bene adalah poin terpenting dalam hadis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak semua hadis adalah hadis sahih, tidak semua hadis bisa diamalkan, dan tidak semua hadis bisa dipelajari. Sejak abad ke-2 H, para sahabat Nabi telah berupaya memurnikan hadis dengan mengklasifikasikan hadis menjadi beberapa kategori. Dan lagi, hal pertama yang menjadi pokok pertimbangan dalam mengklasifikasikan hadis adalah sanad, dengan cara melihat sanad kemudian memastikan sanad yang tertera di dalam suatu hadis memang benar-benar tersambung.

Tinggalkan Balasan