Mohammad Bernie adalah salah satu contoh paling hangat dan kuat sebagai fenomena puncak gunung es wabah kebencian di ruang publik kita. Disadari atau tidak, salah satu tugas etik bagi seorang jurnalis adalah menjaga ruang publik tetap suci. Ia harus steril dari prasangka. Jika seorang jurnalis saja tak bisa menjaga kesucian ruang publik, bagaimana dengan masyarakat pada umumnya. Itulah bagian dari fenomena gunung es itu.
Kenapa fenomena ini harus kita anggap sebagai ikhwal yang penting, sangat penting bahkan? Sebab, sejarah telah mengajarkan bahwa banyak bangsa-bangsa, negara-negara, hancur tersebab merebaknya wabah kebencian. Siapa bisa menjamin kelanggengan bangsa Indonesia ini jika di antara warganya saling menyuburkan benih-benih kebencian?

Kenapa wabah kebencian bisa menghancurkan sebuah bangsa, sebuah negara, suatu tatanan masyarakat? Jika kita merujuk pada Al-Quran surat Al-Ma’idah ayat 8, maka tergambar jelas bahwa kebencian bisa menjadi pintu masuk ketidakadilan. Jika sudah begitu membenci seseorang, bisakah kita berlaku adil terhadapnya? Jika kita mengandaikan sebuah bangsa, negara, atau masyarakat adalah rumah, maka keadilan adalah tiangnya, dan kebencian adalah rayapnya. Jika rayap-rayap terus menerus menggerogoti tiang-tiangnya, maka suatu saat akan ambruk juga rumah kita.
Ada tiga kata kunci dalam kandungan surat Al-Ma’idah ayat 8 tersebut: kebencian, ketidakadilan, dan ketakwaan/kebenaran. Artinya, kebencian akan mendorong seseorang bersikap tidak adil. Dan ketidakadilan akan menjauhkan seseorang dari ketakwaan atau kebenaran. Dari sini kita bisa melakukan pembacaan terbalik seperti ini: bagaimana bisa seseorang mendaku sebagai orang takwa, atau sebagai yang benar, jika ia tak berlaku adil tersebab oleh kebenciannya terjadap orang atau kelompok lain.
Tapi masalahnya adalah tak semua orang sadar bahwa dirinya sedang dikuasai oleh kebencian itu sendiri. Sebab, kebencian itu mematikan nalar, membunuh akal sehat, dan menutup mata hati. Orang yang dimabuk kebencian dengan sendirinya nalarnya mati, akal sehatnya mati, mata hatinya buta. Karena itu, orang yang dirasuki rasa benci nyaris tak pernah sadar bahwa dirinya sedang membenci liyan. Tak sadar bahwa dirinya adalah rayap yang sedang menggerototi tiang-tiang yang menyangga rumahnya.
