Wabah itu Bernama Kebencian

Rasa benci itu bisa muncul oleh sebab apa saja —bahkan oleh tanpa sebab; asal bukan dari golongan kita, maka kita membencinya, dan kita menjadikanya sebagai wabah.

Bagaimana wabah kebencian itu bekerja di ruang-ruang publik kita? Maka “jalan rayanya” adalah fitnah, hoax. Difasilitasi oleh jejaring media sosial di Internet, para pembenci akan dengan tekun menyebarkan fitnah, hoax, hingga semakin banyak orang turut membenci orang yang kita benci. Fakta itulah yang menyesaki ruang-ruang publik kita hari-hari ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika fitnah atau hoax dianggap terlalu berisiko karena ada jerat hukum yang mengadang, maka penyebar kebencian akan mengambil jalan lain: olok-olok. Difasilitasi oleh jejaring media sosial di Internet pula, para pembenci akan dengan tekun membuat dan menyebarkan olok-olok dalam beragam bentuk, termasuk dengan medium seni. Olok-olok kemudian menjadi sebentuk persuasi yang menggiring orang atau kelompok untuk saling membenci. Maka, yang kita lihat hari-hari ini masyarakat bangsa kita memiliki hobi baru: saling berolok-olok.

Itulah kenapa Al-Quran mengisyaratkan akan bahayanya fitnah dan olok-olok. Itulah kenapa banyak negara demokrasi yang menyiapkan perangkat hukum untuk memidanakan orang yang memfitnah orang lain, kelompok yang melecehkan kelompok lain. Sebab, fitnah dan olok-olok itu akan menyuburkan benih-benih kebencian. Dan ketika kebencian telah mewabah, orang tak bisa lagi saling berlaku adil terhadap sesamanya. Itulah saatnya kehancuran tiba.

Tinggalkan Balasan