Wasiat tentang Ayuna

“Alhamdulillah, bapakmu selalu menyelipkan sesuatu untuk anak-anak bapak. Kalau musim kembali ke pesantren atau awal ajaran baru. Sekolahkan anak-anakmu yang tinggi pesan, bapakmu dulu,” jawab Bu Khusnul mulai menitikkan air matanya.

Aku mulai menemukan simpul dari semua ini. Pantas saja aku tak menemukan kemewahan di rumah ini. Semua tampak biasa-biasa saja. Aku pun juga; barang-barang pemberian bapak ibu sewajarnya saja. Sebagai anak pemilik setengah luas sawah di desa dan ratusan juta per tahunnya, hampir tak pernah kulihat bapak ibu membeli barang yang kelewat mahal harganya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Pak Saidi juga masih sekolah anak-anaknya?”

“Yang pertama sudah berkeluarga. Yang kedua masih kuliah semester akhir sambil mondok di pesantren dekat kampusnya, tetapi sesekali pulang ngurusi organisasi di desa ini. Yang terakhir masih madrasah aliyah.”

Aku mulai yakin bahwa sawah sudah dipimpin oleh orang yang tepat dan bertanggung jawab. Sosok Pak Saidi dan Bu Khusnul yang sederhana dan bisa dipercaya. Apalagi setelah Bu Khusnul memberikan catatan lengkap seluruh biaya dan hasil panen dari sawah-sawah yang dikelola.

“Apa pesan bapak ibuku dulu semasa hidup?” tanyaku seketika tanpa berpikir panjang.

“Bapak ibu selalu memikirkan dan membicarakan Mas Hanif. Maka Bapak merasa bersyukur dipercaya mengurusi sawah-sawah ini,” jawab Pak Saidi.

“Ada satu lagi sebenarnya. Tapi kami tak ingin memberitahukannya,” ujar Bu Khusnul menyela.
Pak Saidi langsung mencubit istrinya. Aku hanya terdiam saja dan tak berusaha mengorek ceritanya. Aku ingin yang memang rahasia biarlah menjadi rahasia tanpa mengundang tanya.

“Bu Khusnul, boleh saya tanya tentang warga di desa ini?” pikiranku justru mengarah pada seorang gadis yang berpapasan di masjid kemarin

“Oh tentu saja boleh. Asal jangan pertanyaan saya tadi,” perkataan itu diiringi dengan cubitan Pak Saidi lagi.

Aku pun menceritakan pertemuanku dengan seorang gadis desa. Mahasiswa tingkat akhir sebuah kampus terkenal di Yogyakarta. Ya, aku mulai mengaguminya. Sebagai mantan Ketua IPPNU, dan kini berkiprah di Fatayat, ia sering aktif berkegiatan di desa. Apalagi saat ia memberikan semacam nasihat atau ceramah; tema-tema ringan, kekinian, dan menyentuh hati para remaja yang membuat aku dan mungkin lelaki di desa ini malah terpesona.

“Hanif ingin menikah. Ada gadis desa ini yang mengusik hati Hanif,” kataku agak tersipu malu.

“Alhamdulillah kalau begitu. Tentu kami malah setuju,” kata Bu Khusnul.

“Saya minta bapak ibu sebagai wakil bapak untuk melamar gadis itu.”

“Kalau boleh tahu, siapa nama gadis desa itu?” tanya Pak Saidi.

“Namanya Ayuna. Saya belum tahu di mana tinggalnya. Yang pasti, Hanif sudah yakin dengannya dan ingin langsung menikahinya.”

Pak Saidi dan Bu Khusnul nampak kebingungan. Keduanya saling pandang dan tercengang seakan ada sesuatu yang begitu besar menimpa kepalanya. Keduanya memilih menjauh dan berdiskusi tanpa aku tahu isi perkataannya.

Tinggalkan Balasan