Wasiat tentang Ayuna

“Ada apa Pak Saidi? Ada apa Bu Khusnul?” aku meluncurkan kebingunganku.

Keduanya memilih mengakhiri pembicaraan kali ini. Menutup begitu saja dua rahasia dan tanya yang terlontar di antara kami bertiga. Aku pun enggan memaksa. Kubiarkan keduanya pulang ke rumahnya dalam temaram caya rembulan dan dingin angin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Lek Firman, aku ingin melamar seorang gadis di desa ini. Bisakah Lek Firman membantuku?” tanyaku pada Lek Firman, pamanku dari garis keturunan ibu.

“Kamu ingin melamar siapa? Hampir tidak akan ada perempuan yang bisa menolakmu. Kamu itu tampan, mapan, sarjana, apalagi harta peninggalan orang tuamu yang begitu banyaknya.”

“Tadi Hanif mengatakan maksudku ini malah ditinggalkan oleh Pak Saidi dan Bu Khusnul.”

“Memangnya siapa gadis itu?”

“Tapi janji ya Pak Lek akan membantu saya. Tidak akan seperti Pak Saidi?”

“Iya Hanif. Bagaimanapun, kamu juga merupakan tanggungan kewajibanku. Siapa nama gadis itu?”

“Ayuna.”

Lek Firman malah tertawa terpingkal-pingkal. Ia tak segera menjawab pertanyaanku. Dibiarkannya aku yang terus dalam kecamuk pertanyaan dan rahasia. Setelah puas menertawakan kebingunganku, akhirnya dia mulai bercerita.

“Memang beruntung sekali nasibmu Hanif. Dan mungkin tak lepas dari kebaikan bapak ibumu semasa hidup dulu.”

“Memangnya apa yang terjadi Pak Lek?”

“Ayuna itu memang luar biasa. Sudah lengkap sekali bekalnya kalau menjadi seorang istri mulai agama dan ilmunya. Dan lagi, sudah 20 juz hafalan Quran-nya.”

“Lalu? Apa aku yang tak pernah mondok ini tidak pantas mendapatkannya?”

“Ya jelas lamaranmu diterima. Memang itu sudah keinginan bapak-ibumu semasa hidup dulu punya menantu ahli ibadah. Apalagi orang tua gadis itu sudah sangat dekat dengan keluargamu.”

“Memangnya siapa Pak Lek?”

“Ya orang yang kamu curhati tadi. Itu orang tua Ayuna.”

Tinggalkan Balasan