Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan juga menghadirkan puisi sebagai ruang refleksi. Alih-alih menawarkan jawaban atas patah hati, buku ini justru mengajak pembaca menyadari bahwa setiap kehilangan adalah bagian dari proses mengenali diri sendiri. Sebab, setiap perasaan membutuhkan ruang untuk dirayakan.
Sang penulis, Imana Tahira, dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tahun 1995. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Setelah itu, Imana kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Puisi-puisinya pernah termuat dalam sejumlah antologi, antara lain “Seratus Perempuan dalam Puisi” (2014), “Yogya Halaman Indonesia Jilid II” (2017), dan antologi puisi muslimah penyair “Berbagi Zikir” (2017). Di kampusnya ia bergabung dengan teater ESKA dan menemukan keseriusan dalam bersastra.
Selepas kuliah pernah menjadi reporter dan tim kreatif di Trans TV, kemudian menjadi Host Podcast di kanal YouTube INANEWS TV dan Kuatbaca.com.
Selain bekerja, di Jakarta ia bergabung dengan Komunitas Lentera Kata dan terlibat sebagai pemain dalam garapan teater “Obrok Owok-owok Ebreg Ewek-ewek” karya Danarto yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.
Saat ini, Imana aktif menjadi pemandu acara dan moderator dalam sejumlah diskusi budaya maupun bedah buku.
Bakatnya menulis diperoleh dari sang ayah, KH Acep Zamzam Noor, sastrawan kondang yang akrab disapa Kang Acep. Tak heran jika sejak belia Imana sudah gemar menulis puisi.
