Yang Merayakan Patah Hati

Biarkan patah hati ini mengendap; menjadi oksigen yang kau hirup. Agar kau rasakan sesak, bagaimana sulitnya menahan rindu. Lantas, kurayakan patah ini semeriah-meriahnya!”_

Setelah lebih dari satu dekade menulis dan menyimpan serpihan-serpihan perasaan dalam puisi, Imana Tahira akhirnya meluncurkan buku antologi puisi tunggal perdananya. Seperti sedang merayakan kesudahan patah hati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diberi judul Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan, buku yang berisi lebih dari 70 judul puisi ini seakan menjadi dokumentasi emosional tentang perjalanan cinta yang tumbuh bersama waktu—menyusun konfigurasi khayali tentang cinta bagi pembacanya.

Imana Tahira.

Lebih dari sekadar kumpulan puisi, buku ini merupakan arsip perasaan yang ditulis sejak masa remaja-hingga kini, ia merekam bagaimana cinta hadir dengan banyak wajah dan membentuk kesadaran manusia bahwa nasib kadang memang ada untuk ditangisi sekaligus disyukuri.

Secara psikologis, pengalaman yang diangkat dalam buku ini merupakan bagian dari perjalanan emosional yang sangat manusiawi. Psikolog Robert Stenberg melalui Triangular Theory of Love menjelaskan bahwa cinta terdiri atas tiga unsur utama: keintiman, gairah, dan komitmen. Ketika salah satu atau seluruh unsur tersebut runtuh, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan harapan, rutinitas, serta masa depan yang pernah dibayangkan bersama.

Sementara itu, berbagai penelitian mengenai Attachment Theory menunjukkan bahwa ikatan romantis bekerja menyerupai ikatan emosional yang mendalam. Ketika hubungan berakhir, otak merespons kehilangan tersebut sebagai bentuk perpisahan yang nyata sehingga memunculkan reaksi seperti sedih, rindu, marah, penyangkalan, hingga kesepian. Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar individu mampu beradaptasi dan pulih seiring waktu, menemukan makna baru, lalu membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan juga menghadirkan puisi sebagai ruang refleksi. Alih-alih menawarkan jawaban atas patah hati, buku ini justru mengajak pembaca menyadari bahwa setiap kehilangan adalah bagian dari proses mengenali diri sendiri. Sebab, setiap perasaan membutuhkan ruang untuk dirayakan.

Sang penulis, Imana Tahira, dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tahun 1995. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Setelah itu, Imana kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Puisi-puisinya pernah termuat dalam sejumlah antologi, antara lain “Seratus Perempuan dalam Puisi” (2014), “Yogya Halaman Indonesia Jilid II” (2017), dan antologi puisi muslimah penyair “Berbagi Zikir” (2017). Di kampusnya ia bergabung dengan teater ESKA dan menemukan keseriusan dalam bersastra.

Selepas kuliah pernah menjadi reporter dan tim kreatif di Trans TV, kemudian menjadi Host Podcast di kanal YouTube INANEWS TV dan Kuatbaca.com.

Selain bekerja, di Jakarta ia bergabung dengan Komunitas Lentera Kata dan terlibat sebagai pemain dalam garapan teater “Obrok Owok-owok Ebreg Ewek-ewek” karya Danarto yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Saat ini, Imana aktif menjadi pemandu acara dan moderator dalam sejumlah diskusi budaya maupun bedah buku.

Bakatnya menulis diperoleh dari sang ayah, KH Acep Zamzam Noor, sastrawan kondang yang akrab disapa Kang Acep. Tak heran jika sejak belia Imana sudah gemar menulis puisi.

Bagi Shohifur Ridho’i, seorang penulis dan sutradara pertunjukan—sekaligus mentor Imana selama berkesenian di Teater ESKA Yogyakarta, buku kumpulan puisi ini adalah cinta yang meledak dengan banyak wajah; getirnya cinta yang berkelindan dengan renungan spiritual, letupan harapan yang lembut sekaligus kemarahan yang membuncah. Seluruhnya manusiawi.

“Imana Tahira seolah mengingatkan bahwa cinta selalu kembali, bahkan dari puing-puing patah hati, sebab tak ada cinta yang kita rayakan tanpa sekaligus mengutuknya,” ungkapnya.

Sementara, Ratna Ayu Budhiarti, seorang penulis perempuan, melihat puisi-puisi Imana seperti cinta yang hening dan diam-diam, platonis yang manis. Perjalanan rasa dalan puisinya adalah perayaan terhadap luka, patah hati sekaligus kegembiraan itu sendiri.

“Sebagai perempuan, Imana tegas mengabarkan pada dunia bahwa di dadanya cinta mengada sebagai suaka ketika luka butuhkan penawar. Bukan dalam kepasrahan, melainkan ketegasan penuh kesadaran,” katanya.

Melalui bahasa yang apa adanya dan reflektif, Imana Tahira mengajak pembaca menengok kembali kenangan-kenangan yang bisa dirawat. Buku ini ditujukan bagi siapa saja yang pernah mencintai, kehilangan, atau sedang belajar menerima bahwa tidak semua kisah harus berakhir dengan saling memiliki.

Menyudahi Patah Hati ini tepat diluncurkan pada bulan kelahirannya. Hal itu juga  dimaksudkan sebagai bentuk syukur dan kado ulang tahun penulis, ada harga spesial selama bulan Juli 2026!

Rupanya, sang penulis juga mengedarkan sendiri bukunya. Dibanderol dengan harga Rp 60.000, pembaca bisa langsung menghubungi penulis di instagramnya, @imanatahira.

Tinggalkan Balasan