SULUK PURNAMA SIDHI
Tuhanku telah membentuk kita dari rahasia ketiadaan
Tempat terbit-tenggelam gejolak batinku adalah kuasa-Nya
Langit Muharram melantun kidung kabingahan
Harum mangir bercampur wangi dupa-setanggi memadati sukma sunyi
Purnama sidhi menggantung di atas langit kota
Merekahlah bunga-bunga doa
Mekarlah kelopak-kelopak harapan
Semerbak takjub tanpa lafal
Keridaan hidup adalah wujud tasbih cinta kita yang mulia
Gusti, luruhkan jiwa dalam sumeleh yang suci

30 Juni 2026.
ATAS NAMA CINTA, KITA SAUDARA SEDARAH
Aku jengah menghitung lonceng kematian
Sedang aku takut
Pada batu nisan
Pada tabur bunga
Pada pemakaman di perut bumi
Cahaya terbit-tenggelam pada cakrawala jiwaku
Bagaimana kematian yang laik?
Yang tak membonceng iblis berambut api
Bahasa Tuhan lebih terang dari matahari
Langit telah menuliskan puisi
Bintang-gemintang dan Bima Sakti menjadi isi
Maut mengintai di detak nadi
Menjadi alas kaki manusia yang menjauh berlari
Maut bukanlah lelucon lagi
Matanya menyala-berapi
Di bawah langit merah ia benar marah
Dipakainya baju zirah
Diacungkannya cambuk di atas pedati
Kemanapun anak-anak adam bersembunyi
Mata Tuhan selalu awas mengamati
Berbisik Ia pada ruh dalam segumpal tanah
“Kuberikan izin hidup atas jiwamu, dan maut sebagai teman dan pendampingmu yang setia”
Atas nama cinta
Kusimpan sabit tajam di balik punggungmu
Jiwa-jiwa terbang bersayap
Maut dapat kapan saja memangkas sayap-sayapnya
Maka ketahuilah
Kasih dan maut adalah saudara sedarah
24 Juni 2026.
DI ATAS TANAH, DI BAWAH LANGIT YANG LUKA
Sekali waktu keadaan bangsa ini pernah kacau
Dan sekarang semakin kacau lagi
Waktu dan segala yang dikandungnya
Adalah pemahat agung
Kekacauan tak pernah benar-benar pergi
