Yang Merayakan Patah Hati

Bagi Shohifur Ridho’i, seorang penulis dan sutradara pertunjukan—sekaligus mentor Imana selama berkesenian di Teater ESKA Yogyakarta, buku kumpulan puisi ini adalah cinta yang meledak dengan banyak wajah; getirnya cinta yang berkelindan dengan renungan spiritual, letupan harapan yang lembut sekaligus kemarahan yang membuncah. Seluruhnya manusiawi.

“Imana Tahira seolah mengingatkan bahwa cinta selalu kembali, bahkan dari puing-puing patah hati, sebab tak ada cinta yang kita rayakan tanpa sekaligus mengutuknya,” ungkapnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara, Ratna Ayu Budhiarti, seorang penulis perempuan, melihat puisi-puisi Imana seperti cinta yang hening dan diam-diam, platonis yang manis. Perjalanan rasa dalan puisinya adalah perayaan terhadap luka, patah hati sekaligus kegembiraan itu sendiri.

“Sebagai perempuan, Imana tegas mengabarkan pada dunia bahwa di dadanya cinta mengada sebagai suaka ketika luka butuhkan penawar. Bukan dalam kepasrahan, melainkan ketegasan penuh kesadaran,” katanya.

Melalui bahasa yang apa adanya dan reflektif, Imana Tahira mengajak pembaca menengok kembali kenangan-kenangan yang bisa dirawat. Buku ini ditujukan bagi siapa saja yang pernah mencintai, kehilangan, atau sedang belajar menerima bahwa tidak semua kisah harus berakhir dengan saling memiliki.

Menyudahi Patah Hati ini tepat diluncurkan pada bulan kelahirannya. Hal itu juga  dimaksudkan sebagai bentuk syukur dan kado ulang tahun penulis, ada harga spesial selama bulan Juli 2026!

Rupanya, sang penulis juga mengedarkan sendiri bukunya. Dibanderol dengan harga Rp 60.000, pembaca bisa langsung menghubungi penulis di instagramnya, @imanatahira.

Tinggalkan Balasan