2TH DUNIASANTRI (4): RUMAH BERGURU LITERASI

Ternyata setelah menyelami di web duniasantri.co, banyak ilmu yang didapat, mulai dari mengenal budaya- budaya daerah lain, hingga mengenal tokoh-tokoh agama (guru, kiai, hingga pesantren di berbagai daerah mulai Sabang sampai Merauke) yang selama ini masih belum terjamah dengan Google.

Dengan demikian, saya makin bersyukur kepada Allah, maka di sinilah saya mennyatakan bahwa duniasantri tidak hanya jejaring abal-abal, akan tetapi  sebagai “guru dalam berliterasi”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sebenarnya menulis itu sulit.” Ungkapan ini yang selalu muncul di benak pikiran saya. Mengakarnya kata-kata itu membuat pikiran malas, tidak ada ghirah dan akhirnya mumet untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan.

Namun tidak selang berapa lama, akhirnya saya menemukan sebuah tulisan ringan melalui pena Igbal Shukri,  “Untuk menjadi seorang penulis tentu membutuhkan suatu tahapan atau proses yang harus dilalui. Hingga kemudian dari proses tersebut akan menghasilkan sesuatu yang bisa kamu nikmati dan dinikmati orang lain.”

Pernyataan Iqbal itu tidak sia-sia. Sebab itulah saya tidak patah arang, bahkan selalu terngiang-ngiang di telinga. Akhirnya saya bisa memutuskan untuk mencoba mengirim tulisan ke web duniasantri.coi. Mencobalah saya menuangkan sebuah tulisan pada tanggal 3 Juni 2021, namun untuk menyelesaikan tulisan memakan waktu puluhan jam. Maklum bagi pemula apa saja itu sulit untuk dihadapi.

Maka saya pun berusaha dengan penuh semangat, sehingga tulisan pertama pun selesai, lalu dikirim dengan judul “Mengenang Sosok Sufi Sumenep [Thayyib Bin Syamiuddin]”. Alhamdulillah, tulisan sukses terkirim. Sebenarnya waktu pengiriman tulisan pertama, jujur, jantung saya mulai berdebar-debar seakan-akan tanpa henti.

Tinggalkan Balasan