Penatnya senja di perkotaan. Hiruk pikuk para insan pemburu uang. Ada yang baru berangkat kerja. Pun, ada yang pulang dari kerja, termasuk aku. Aku bekerja sebagai cleaning servis di salah satu perusahaan di ibu kota ini. Selepas subuh berangkat kerja, sore pulang. Demi menafkahi anak dan istri.
Kali ini untuk menghilangkan segala letih setelah seharian bekerja di dalam ruangan berpendingin, aku memutuskan bertolak ke taman kota terlebih dahulu. Sekadar mencuci mata, melihat hijau tumbuhan dan beraneka warna bunga di sana. Itu bisa menenangkan sejenak jiwa ini.

Aku kendarai motor butut milikku menuju pusat kota. Setelah memarkirkan motor, aku menuju salah satu bangku yang ada di sana. Pandanganku jauh menerawang ke atas. Di dalam otakku ada berbagai angan dan harap untuk keluarga. Sebab, hidup di kota seperti ini sungguh tak mudah bagi kami orang perantauan dari desa. Baru beberapa bulan aku, istri, dan anakku pindah ke ibu kota ini demi mencari kehidupan yang layak. Kehidupan di kota sungguh berbeda dibanding kehidupan di kampung halaman. Tak ada tetangga yang menyapa. Yang ada hanyalah kerja, kerja, dan kerja. Sampai lupa hangatnya bercengkerama dengan keluarga di rumah.
“Hai! Maling! Maling!” Tiba-tiba suara teriakan anak lelaki yang aku perkirakan usianya sepuluh tahun, membuyarkan lamunanku. Dia berlari mengejar orang yang diteriaki maling tadi.
Aku yang baru saja menyadari bahwa ponsel di sampingku sudah tak ada, pun turut berlari mengejar si pencuri. Aku lari di belakang anak lelaki itu. Baru sekian detik aku berlari, batu besar yang tak tadinya tak terlihat oleh pandanganku membuat aku terjatuh. Nasib mujur masih memihakku. Anak lelaki tadi ternyata sudah berada di hadapan seraya mengulurkan tangannya untuk menolongku.
“Hati-hati, Pak. Ini ponsel Bapak. Untung tadi ada warga yang menolong untuk menangkap pencurinya,” ucap anak berkaus hitam itu sembari mengangsurkan ponsel milikku.
“Terima kasih, Nak.”
Belum sempat aku bertanya namanya, dia langsung berlalu dengan cepat. Aku hanya bisa menatap punggungnya sampai tak terjangkau oleh mata.
“Alhamdulillah. Masih rezeki ponsel ini,” lirihku.
***
Hari ini seusai bekerja aku singgah kembali ke taman kota. Tujuanku saat ini adalah bertemu anak lelaki yang kemarin telah menolongku. Setelah sampai di taman kota, aku menyisirkan ke semua sudut tempat di sana. Nihil. Aku tak menjumpai anak itu. Hanya ingin sekadar kenal lebih dekat dengan anak lelaki itu. Akan tetapi, takdir belum mempertemukan kami lagi. Aku berharap di lain waktu bisa berjumpa anak itu kembali. Seusai menyusuri ke semua tempat, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sudah terbayang di rumah istri dan anakku yang masih balita menantikan ayahnya membawa nasi bungkus dari kerja. Aku sangat bersyukur mempunyai istri yang menerima apa adanya. Saat aku bawakan nasi bungkus wajahnya begitu gembira. Dia bersemangat memakannya. Mungkin juga karena dia sudah terlalu lapar menungguku pulang. Tak pernah ada keluh kesah yang terlontar dari mulutnya. Aduh, i love you istriku, anakku. Rasanya ingin segera sampai rumah dan memeluknya.
Sebelum sampai rumah aku singgah dulu di rumah makan. Di sana ada berbagai macam lauk. Aku membeli tiga bungkus nasi dengan lauk yang berbeda. Ada ayam goreng, ikan bakar, dan satu lagi ayam rendang kesukaan istriku.
