Jampi-jampi Mak Tini

Sungguh, bila ada aturan aneh dalam satu kurung desa, mungkin desa ini salah satunya. Warga sekitar memang tahu betul peraturan dari leluhur terdahulu yang turun temurun masih diwariskan. Semenjak ada lelaki yang berani menantang peraturan tersebut, gaduh desa terkena bencana secara beruntun tak terhindarkan. Hari ini banjir, kemarin tanah longsor, dan mungkin beberapa hari esok, desa tersebut hancur hilang karena bencana.

Beberapa tetua desa bermusyawarah untuk mencari cara bagaimana menghentikan bencana ini. Bahkan lelaki yang melanggar aturan itu dipaksa datang untuk ikut bercakap dalam rapat di ruang balai desa. Lalu mereka menyuruh pergi lelaki tersebut keluar desa saat itu juga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sudah dibilang, kan, kalau menyembelih hewan kurban, parangmu harus didoakan dulu oleh Mak Tini!” kata Heru sebagai lurah desa dengan nada kesal.

“Sekarang, bagaimana nasib desa kita?” Bahrudin bertanya dalam ruang cakap tersebut.

“Ya, kita usir saja Rahman ini keluar desa!” sahut Mbah Darmo sebagai salah satu sesepuh desa.

Rahman sejak awal pergunjingan sudah diam. Tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulutnya. Rasa sesal pada dirinya sudah menumpuk. Bahkan timbul pertanyaan pada dirinya, apakah ini akibat ulah perbuatannya. Atau ini hanya kebetulan saja.

Peraturan desa tersebut memang juga sudah tertulis jelas di balai desa. Bila setiap tahun pada hari kurban, setiap parang yang digunakan untuk menyembelih hewan kurban harus diberi doa oleh Mak Tini agar tidak terjadi bencana.

Tapi Rahman menghiraukan aturan tersebut. Ia melakukan penyembelihan hewan kurban dengan parang tanpa terlebih dulu diberi doa atau jampi-jampi oleh Mak Tini. Aneh memang bila dikatakan, sebelum-sebelumnya Rahman sebagai tukang jagal tak pernah melanggar aturan tersebut, dan untuk tahun ini ia baru saja melanggarnya. Seketika itu pula, esok hari bencana itu muncul satu per satu.

“Ya sudah, ini semua salahmu … Saya minta kamu keluar dari desa ini dengan suka rela!” pinta Heru kepada Rahman.

***

Setelah matahari terbit mengangkasa setinggi ujung tombak. Dan banjir di desa sudah mulai surut. Rahman sembari mengemas pakaian, ia termanggu. “Apa cuman di sini, sebuah desa dengan keadaan yang aneh?”

Ibu Rahman datang melihat anaknya dengan menghimpun sesak. Muara air mata berusaha ia bendung. Suaranya bercampur dengan rasa gemuruh untuk tidak melepaskan anak satu-satunya itu.

“Kau mau pergi kemana, Nak?”

“Entah … yang terpenting aku tidak di sini.”

Rahman menengok melihat sekilas ibunya untuk terakhir kali. Ibu Rahman menangis sendu. Bendung air mata yang sudah ia tahan akhirnya ambrol.

Tinggalkan Balasan