Tak ada yang tahu perihal alamat asli lelaki buta itu. Tiga tahun lalu, ia datang ke Kelurahan Manakari ini hanya ditemani sebatang tongkat lusuh bergagang bengkok. Ia mengaku bernama Suno. Lalu ia tinggal di masjid dan menjadi tukang bersih-bersih.
Selain membersihkan masjid —meski tidak bisa melihat— ia juga rajin membantu warga dengan ketangkasan kerja layaknya orang normal. Sikap mulia itulah yang membuat warga sayang kepadanya, dan memberinya makan setiap hari secara bergantian. Jika ada yang memberi uang, dengan sopan ia menolak. Ia hanya menerima sedekah makanan sekadarnya, tidak mau pada uang.

Tak ada barang apa pun yang ia miliki selain sebatang tongkat dan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya. Pakaian yang tak pernah dicuci kecuali hanya dibasuh seperlunya saat terkena najis. Tapi anehnya, pakaian tersebut selalu tampak bersih dan menguar wangi harum.
Hal lain yang membuat warga tercengang, dalam kebutaannya, ternyata ia bisa melihat masa depan. Keadaan masa depan akan ia tunjukkan dengan tikai garis-garis jari telunjuknya yang membentuk sebuah sketsa di datar tembok, tiang, pintu, papan, lantai, dan lainnya.
Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, lelaki tunanetra itu sudah memakai masker lebih dulu, tepatnya setelah mencoret dua batang tiang listrik dengan tikai garis yang juga membentuk gambar masker sebagaimana yang ia pakai. Ia menggambar dengan bahan cairan kesumba merah yang langsung dicolek dengan jari telunjuknya. Ada banyak tafsiran terhadap coretan itu. Seperti biasa, ketika ditanya makna coretan jemarinya, ia akan menggeleng seperti merahasiakan sesuatu. Ia hanya meminta orang-orang berdoa sesaat sebelum dirinya beranjak pergi, dan menggambar lagi di tempat yang berbeda.
Setiap kali ia membuat sketsa, orang yang memercayainya akan penasaran dengan jantung penuh debar; gerangan apa kiranya yang akan terjadi pada hari sesudah itu. Sementara, mereka yang tidak percaya hanya bersikap biasa saja, bahkan kadang mencibirnya dengan sinis.
Di akhir tahun 2020 lalu, lia kembali membuat kejutan. Ketika itu ia mencorat-coret tembok kantor kelurahan dengan sketsa berupa tikai garis kuning yang absurd. Coretan itu tepat berada di bagian yang mudah dilihat. Jika dilihat dari samping, sketsa itu tampak seperti sampan, tapi jika dilihat dari depan, garis itu bagai air yang mengalir.
Pak Lurah dan bawahannya tak peduli pada gambarnya. Mereka marah besar karena coretan itu jelas-jelas mengotori tembok sehingga kantor tampak kumuh. Sambil berkacak pinggang dan mengepal tangan, Pak Lurah mengancam lelaki buta itu dengan suara keras. Kedua matanya terbelalak penuh amarah. Beberapa bawahan semakin mengompori Pak Lurah. Beruntung lelaki buta itu tidak ada di tempat itu, sehingga amarah Pak Lurah tak diluapkan. Tapi Pak Lurah berjanji untuk memberi pelajaran padanya.
***
Coretan lelaki buta itu semakin hari semakin membuat warga geger. Warga yang semula menyayanginya, berubah membencinya. Kebencian itu meluap setelah suatu malam lelaki ia mencorat-coret rumah-rumah warga dengan kesumba kuning. Bentuknya sama dengan yang di kantor kelurahan; berupa tikai garis absurd yang menyerupai tumpahan air, dan bila dilihat dari arah berbeda akan mirip dengan sampan.
Keesokan paginya, ia tetap salat subuh berjamaah di masjid sebagaimana biasa. Ia tak merasa canggung bertemu warga karena dirinya merasa tidak bersalah. Bahkan sebaliknya, ia merasa bahagia karena merasa telah membantu warga untuk mencermati cretannya supaya hidup waspada. Coretan jemari yang semalaman ia lakukan dengan jerih payah tak terperi, pada intinya ingin membantu warga agar hidupnya selamat. Tapi warga berlawanan keadaan dengan pikirannya. Mereka tidak merasa dibantu, tapi merasa dirugikan oleh sketsa-sketsa itu.
Seusai zikir yang diakhiri dengan doa, tiba-tiba lelaki tunanetra itu terkejut oleh sentuhan tangan kasar dari belakang, dan menariknya hingga tubuhnya terjengkang dan balik menghadap ke belakang. Lalu suara warga sahut-menyahut mengecamnya.
“Apa benar kau yang semalam mencoret banyak rumah warga kelurahan ini?” suara itu bernada bentakan, membuat lelaki tunanetra itu sedikit gemetar.
“Iya, iya, Pak! Saya yang melakukannya. Rumah yang belum, akan saya coret nanti malam,” jawabnya dengan tembakan seulas senyum.
“Bangsat! Kau harus membersihkan coretan-coretan itu di seluruh rumah warga. Jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya,” ancam Pak Lurah.
