Dialog

“Aku sesungguhnya sudah tidak berselera mengucapkan keluhan-keluhan sebab hal-hal yang sudah Tuhan takdirkan untukku. Keluhan membuatku semakin payah, bahkan tidak menggembirakan sama sekali.”

Rembulan di langit yang terlihat hampir sabit seperti lamat-lamat menatap kami yang sedang bercengkrama di atap rumah. Selama tiga minggu ini aku sangat sering melukisnya, bahkan senang memotretnya usai tarawih dan memandanginya hingga menjelang tengah malam saat orang-orang baru turun dari masjid atau langgar untuk tadarus. Di tempatku, tadarus al-Quran pada bulan Ramadan akan berakhir sekitar jam setengah dua belas malam, menjelang dini hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku baru saja meletakkan mushaf di atas meja lipat di sebelahku. Pakaian salat masih lengkap kukenakan dengan sajadah yang sengaja kugelar kembali di atap rumah sekembali dari tarawih di masjid satu jam yang lalu. Beberapa hari ini aku sangat senang menyendiri di atap, entah untuk mendaras al-Quran atau kemudian mencoret-coret buku harian.

Aku kedatangan tamu malam ini. Rupanya ia sudah menunggu sejak tadi, tetapi ia memilih membiarkanku menyelesaikan bacaan al-Quranku terlebih dahulu. Aku memanggilnya dan memintanya duduk tepat di sampingku.
Kita baru saja bertemu dua puluh lima hari yang lalu, tapi rasanya sangat akrab sekali seperti sudah bertemu puluhan tahun lamanya.

Saat kutanya mengapa ia begitu baik padaku, ia selalu tersenyum dan menjawab dengan ketulusan di wajahnya. Katanya, kita memang sudah sangat akrab. Sebab setiap tahun ia selalu mengunjungiku, bahkan sejak usiaku masih duduk di bangku taman kanak kanak, tapi saat itu aku belum menyadari kehadirannya. Dia tidak pernah berubah sama sekali, tetapi perubahankulah yang seringkali menyebabkan kehadirannya menjadi kembali asing.

Aku dan dia pernah begitu akrab di tahun emasku –begitu dia menyebutnya, sangat dekat tak terpisahkan bak pinang dibelah dua. Ia bercerita penuh antusias dan binar di matanya. Aku hanya tersenyum mendengarkan dengan seksama. Tapi kemudian ekspresinya mendadak berubah, ada raut kecewa ketika bercerita tentangku beberapa tahun ke belakang. Hati hati betul aku bertanya dan berusaha memilah kata meskipun pada akhirnya yang keluar hanya pertanyaan standar “kenapa?”

Ia menatapku sungguh-sungguh dan mulai bercerita.

“Kamu tahu? Beberapa tahun belakangan kamu banyak berubah, entah kenapa banyak sekali yang kurang darimu, aku jujur saja. Belasan tahun lalu aku melihatmu sangat penuh cahaya ketika aku datang, saat itu kamu masih menetap di sebuah pesantren. Aku selalu mengamatimu dari jauh, kamu sangat sering memandangi rembulan malam sejak awal kedatanganku, berbinar menunggu hilal, kamu sangat kentara merinduiku.”

Aku hanya diam mendengarkan ungkapan hatinya. Aku tak ingin menyangkal hal-hal yang disebutnya “kesalahan” selama beberapa tahun belakangan, tepatnya sejak aku sudah tidak lagi tinggal di pesantren. Kami saling menatap ke depan, tapi telingaku jelas masih fokus menyimaknya.

Ia kembali menyambung ucapannya. “Ada banyak orang di dunia ini, ketika aku pergi mereka berubah, bahkan bisa jadi lebih buruk dari sebelumnya. Kepadamu, aku tak mau membicarakan yang lebih baik sebab aku ingin menegurmu. Aku sering hanya dijadikannya momentum untuk mengaduh pada Tuhan dan orang hanya berlomba ketika aku datang saja. Sepeninggalanku, mereka kembali sama.”

4 Replies to “Dialog”

Tinggalkan Balasan