“Bukankah itu berarti kedatanganmu adalah istimewa?” tanyaku.
“Ya, kalian boleh menyebutnya begitu, tapi sesungguhnya aku amat menyenangi orang-orang yang tetap setia meskipun aku sudah beranjak pergi.” Aku menegakkan posisi dudukku, bersiap mendengarkan apa saja darinya. Sepertinya ini adalah hal serius dan aku merasa termasuk dalam bagian yang ia ceritakan. Aku sedang ditegur, bukan?

“Sepanjang perjalanan menuju kemari, aku selalu bertanya kepada teman-teman sebelumku yang sudah menemuimu. Bagaimana selama aku tak ada, bagaimana kamu hendak menyambutku dengan melewati mereka, Rajab dan Sya’ban. Bahkan usai kepergianku tahun lalu, saat yang berat bagimu karena kehilangan Abahmu, aku selalu menanyakanmu pada teman seperjalananku. Apakah kamu masih setabah dulu, saat ibumu juga pergi meninggalkanmu? Apakah kamu masih sesabar dulu saat ujian terberat sedang menimpamu? Ataukah kamu berubah menjadi semakin tidak peduli karena ujian ini kau anggap tak adil bagimu.”
Aku mafhum sekarang. “Aku benar benar tidak konsisten, bukan? Kamu pasti sudah mendengar banyak dari Syawal hingga Sya’ban. Aku orang yang kamu ceritakan, orang yang berubah setiap kali engkau beranjak pergi. Maafkan aku.” Aku merunduk malu, mengingat banyak sekali hal mubadzir yang mungkin kulakukan selama dia meninggalkanku.
“Malam ini aku melihatmu dengan secerca cahaya baru, itulah kenapa aku datang bertamu.” Mendengar penjelasannya aku sedikit terkejut, karena selama ini aku diam saja, tidak bercerita apa pun atau pada siapa pun.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Ada yang memberitahuku, aku tidak bisa memberitahumu siapa.”
“Aku sesungguhnya sudah tidak berselera mengucapkan keluhan-keluhan sebab hal-hal yang sudah Tuhan takdirkan untukku. Keluhan membuatku semakin paya, bahkan tidak menggembirakan sama sekali,” aku mengawali cerita dengan tawa yang tertahan. Ia setia menyimak, tidak menyela sama sekali.
“Kau tahu? Bulan-bulan tanpamu adalah kerinduan yang kosong. Seperti sepanjang tahun menanti kekasih tanpa kepastian,” kali ini aku mencandainya dan disambut tawa riang hingga bahu kami terguncang.
“Aku bersyukur kamu datang dan tahun ini aku masih bisa menemuimu kembali. Aku ingin menjadi seperti harapanmu, tetap setia meski engkau beranjak pergi. Tapi, apa aku bisa?” aku menoleh padanya bertanya-tanya.

Nice story about your ramadhan
Nice story, about your ramadhan
Nice story, good luck with your ramadhan
Thank you, good luck with your Ramadhan too