“Bukankah pertemuan ini membuat keyakinanmu semakin kuat? Kalau tidak seharusnya aku pergi saja sejak tadi.” Dia berbalik mencandaiku kali ini. Kulihat rembulan di atap rumah semakin terang pantulan cahayanya, seperti ikut bergembira mendengar candaan berbalas dari kami berdua.
“Setia tidak butuh resep,” kali ini aku sungguh terkejut. Dia seperti membaca pikiranku yang hendak bertanya bagaimana cara agar aku bisa setia padanya. Dia berbalik menatapku dengan pandangan senang karena bisa membaca pikiranku.

“Kalau kau merindukanku, jagalah hal-hal baik yang kamu lakukan seperti ketika aku ada meskipun nanti aku sudah pergi, itu sudah cukup menunjukkan kesetiaanmu. Nanti ketika aku datang kembali padamu, aku akan lebih baik lagi dalam membersamaimu.”
Aku mengangguk mengerti dan mencoba untuk tidak mengambil kesimpulan apa pun dari pembicaraan ini. Sebab dalam hidup, seringkali hal-hal manis datang di akhir untuk penghiburan bagi yang akan ditinggalkan. Aku sudah seringkali mengalaminya. Seperti sebelum ibu dan abah meninggalkan kami anak-anaknya, beliau berdua memberikan banyak kenangan manis sebelum akhirnya menuju jembatan pertemuan menemui kekasihnya, kematian.
“Sebenarnya aku kecewa, kenapa aku baru benar-benar bisa bertemu denganmu tepat beberapa hari sebelum kamu akan beranjak pergi. Aku sungguh payah, bukan?” aku mengutuk diri sendiri, kesal bercampur kesedihan jadi satu.
“Jaga secerca cahaya itu kalau kamu ingin kutemui kembali nanti. Jangan bersedih, habiskan sisa malam-malammu dengan lebih sedikit tidur atau kamu akan benar-benar menyesalinya ketika nanti kutinggalkan jua.”
“Besok kamu masih kembali menemuiku kan?”
“Kalau besok di sisa malam-malammu seperti ini, aku pasti kembali. Asal kamu tahu, aku benar benar pemilih. Hanya orang tertentu dari sekian puluhan juta jiwa di bumi ini yang kuajak berdialog seperti ini, dan kamu beruntung.”
Ia mulai beranjak dari posisinya. Memandangku bangga sembari menepuk kedua pundakku. Apakah perpisahan rasanya sesedih ini? Aku sudah banyak sekali mengalaminya, tapi memilih melupakan rasanya.
Ia sekali lagi tersenyum padaku untuk meyakinkan bahwa masih ada beberapa hari lagi. Jadi aku tidak perlu khawatir sama sekali. Terakhir, ia kembali berpamitan padaku kemudian beranjak menghilang di kegelapan malam. Aku merasakan embusan angin yang lembut menerpa wajahku. Sebentar lagi dia akan pergi, sebab kulihat Syawal sedang melambaikan tangannya dengan senyum penuh kebahagiakan dari arah yang berbeda. Jelas ia akan segera menghampiri kami.
Gresik, 17 Mei 2020

Nice story about your ramadhan
Nice story, about your ramadhan
Nice story, good luck with your ramadhan
Thank you, good luck with your Ramadhan too