Di pondok pesantren, hari-hari besar Islam sering kali datang bukan sebagai pesta, tapi jeda kontemplatif. Termasuk Idul Adha. Di pagi hari raya, takbir menggema dari surau kecil yang dindingnya mulai retak. Santri-santri berjalan ke lapangan sambil membawa parang, bukan untuk berperang, tapi untuk menyembelih. Bukan hanya hewan ternak, tapi juga hasrat, ego, dan keterikatan yang selama ini diam-diam tumbuh dalam diri.
Idul Adha, dalam terang filsafat, adalah pertanyaan: apa arti menjadi manusia dalam relasinya dengan Tuhan? Dan santri, dengan kehidupan sunyinya, seolah menjadi jawaban yang berjalan pelan—tanpa sorotan, tanpa seremonial.

Iman dan Absurditas
Bagi para pemikir eksistensialis seperti Kierkegaard, kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita iman biasa. Ia adalah “teleological suspension of the ethical”, ketika etika umum digantung demi ketaatan mutlak kepada yang Ilahi. Ibrahim diminta menyembelih Ismail, anaknya. Bukan karena Tuhan tidak tahu betapa cintanya Ibrahim, tapi karena iman sejati lahir ketika cinta duniawi ditanggalkan demi cinta transenden.
Ini bukan hanya soal pisau dan leher anak. Ini soal keputusan paling radikal dalam sejarah spiritualitas manusia: tunduk kepada yang tak masuk akal, demi keyakinan yang tak tergoyahkan.
