Melawan dengan Sound Horeg

Ketika semua orang maunya hanya didengar, dan tidak mau mendengarkan suara orang lain, maka muncullah sound horeg itu.

Seperti umumnya, munculnya kesenian rakyat lebih sering didorong oleh ekspresi perlawanan terhadap dominasi eksternal atau, setidaknya, katarsis dari keterimpitan. Fenomena sound horeg, sebagai bentuk mutakhir hasil olah seni rakyat, bisa dibaca dalam kacamata itu. Seakan, melalui sound horeg, dari pelosok-pelosok kampung orang-orang berteriak-teriak: Dengarkan suaraku! Dengarkan pendapatku! Dengarkan mimpiku! Suara-suara mereka kini ikut berebut ruang pendengaran publik yang semakin bising.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya sendiri nyaris lupa dengan istilah horeg itu —bahasanya orang Jawa. Saat masih kecil, saya sering mendengar kata horeg ketika ada lindu atau terjadi gempa bumi, yang membuat tanah serasa bergoyang, rumah-rumah bergetar, atau genting melenting berjatuhan. Kehadiran sound horeg nyaris serupa lindu atau gempa bumi, ditambah dengan dentuman dahsyat suara rendah yang mengancam gendang telinga.

Tinggalkan Balasan