Faizal dan Gus Parit sudah lulus. Keduanya telah bergelar sarjana pendidikan. Dan, kehidupan tetap harus berjalan. Tugas berikutnya adalah mencari pekerjaan. Tidak mudah! Lamaran dan daftar riwayat hidup dikirimkan beratus-ratus lembar, tak juga kunjung ada balasan. Bergelar S1, namun pengangguran, kiranya tidak hanya mereka berdua di negeri ini. Jutaan!
Selalu kalah pada iklan lowongan, dengan tulisan “diutamakan berpengalaman”, bahkan jika ada tulisan “berpenampilan menarik”, Gus Parit mengurungkan melanjutkan membaca iklannya, karena merasa tidak memiliki keduanya.

Faizal dan Gus Parit merasa terbebani. Dua pemuda, sehat walafiat, waras dan cerdas, lulus perkuliahan, tetapi menganggur.
Seperti pagi ini, Gus Parit diceramahi ibunya, “Oalah Rit..Rit! Mbok ya keluar sana, cari kerja yang benar, menghasilkan duit. Biar berguna ilmu kuliahmu itu!”
Gus Parit mendengus kesal, siapa yang tidak ingin kerja? Siapa yang tidak ingin menghasilkan duit? Maka, dijawablah sekenanya, “Kerja apa to Bu? Anakmu ini sudah berusaha. Zaman sekarang sulit cari kerja. Sarjana seperti aku ini banyak yang nganggur. Pinter tapi kalau nggak ada relasi atau orang dalam, ya sama saja bohong.”
Ibu Gus Parit menambahi ceramahnya, “Rit! Pekerjaan itu banyak. Nggak harus sesuai bidang. Nggak usah gengsi. Sana, buruh tandur, nguli bangunan, berkebun, beternak, atau apalah, yang penting tidak nganggur Rit!”
“Sarjana ko ngarit, angon sapi! Emoh! Tunggu saja Mak! Sebentar lagi anakmu yang guanteng ini pasti diterima kerja.”
“Ganteng sekandang kambing itu! Rit, dulu, ada bapakmu yang bisa nguliahkan kamu. Sekarang, bapakmu sudah meninggal, ganti kamu sekarang yang jadi tulang punggung keluarga. Kerja Rit, kamu harus kerja! Emak dan dua adikmu ini butuh makan.”
Saking jengkelnya, Gus Parit menyahut, “Kalau tidak ada yang dimakan, ya puasa, Mak!”
“Puasa itu ibadah, Rit. La kalau puasa kita ini karena keadaan, karena memang nggak ada yang dimakan.”
“Wah, berarti kita ampuh, Mak! Sudah dhuafa, puasa lagi. Bisa dobel itu pahalanya.”
“Nggak lucu, Rit! Pokoknya kerja, kamu harus kerja, panas kuping emakmu ini dengar omongan tetangga. Sarjana ko kerjanya mancing, nganggur lagi!”
“Wes-wes, Mak! Tak mancing dulu wes, mau nyepi di kali, cari inspirasi, timbang di rumah, sumpek!”
Gus Parit bergegas melangkah pergi, meninggalkan emaknya dengan wajah yang kecewa. Emak sebenarnya hanya ingin Parit bisa dapat kerja, apa pun! Agar tidak dihina tetangga-tetangganya yang “maha benar”.
Singgahlah Gus Parit di rumah Faizal. Dua sahabat karib yang sama-sama pengangguran. Mereka beradu pandang, tersenyum, seolah berkata, “Nasib kita sama, Bro!”
Gus Parit memulai obrolan, “Sal, bikinkan kopi dong..ngelu kepalaku.”
Faizal yang lagi rebahan di kursi tamu sambil melihat TV, malas menjawab, “Buat sendiri sana! Ko seperti tamu saja! Sekalian bikin dua, untuk aku, juraganmu, ha-ha-ha-ha.”
Gus Parit melengos pergi ke dapur, timbul pikiran iseng. Digantinya gula jatah kopi Faizal dengan garam, tiga sendok. Ia tertawa geli membayangkan bagaimana reaksi sahabatnya nanti setelah meminumnya.
“Ini kopinya juragan, silakan diminum, monggo, mumpung masih panas,” Gus Parit sambil meletakkan gelas kopi di dekat Faizal.
“Terima kasih, suwun yo le, Ndoromu ini akan segera menaikkan gajimu,” jawab Faizal sambil terkekeh.
Dengan hati-hati, Faizal mengambil gelas kopi, meniupnya perlahan, dan menyeruputnya dalam-dalam. Suuuurrrrrpppp… Faizal meringis keasinan sampai terbatuk-batuk. Tambah jengkel lagi melihat Gus Parit tertawa sambil memegangi perutnya.
“Cuma garam itu, Sal! Untung bukan kucampurkan sianida, bisa koit kamu. Ha-ha-ha-ha.”
Faizal yang dikerjai, tersenyum asin. “Awas kamu, Rit. Tunggu saja balasanku,” dengan muka dan tatapan mata dendam, persis di sinetron pemeran antagonis kepada tokoh yang dianiaya.
Gus Parit selesai ngopi, undur diri, “Sal! Aku mau mancing dulu. Kamu ikut apa nggak. Pusing di rumah, dimarahi mak terus.”
Faizal enggan, “Males aku mancing. Lain kali saja. Tak nikmati rebahan ini.”
“Iya wes, aku tak ke kali dulu. Assalamualaikum.”
