Perempuan dan Kecemburuannya

Salah satu hal paling berbahaya di dunia ini adalah perempuan yang sedang memendam rasa cemburu. Insting dan intuisinya lebih tajam dari anjing pelacak, detektif profesional, bahkan lebih berbahaya dari agen FBI atau CIA sekalipun. Mereka juga mampu melakukan hal-hal nekat yang tidak pernah bisa dibayangkan!

Munculnya istilah “pelakor” yang marak di media sosial, sesungguhnya kerap membuat saya geram. Saya geram bukan karena sinisme saya terhadap “pelakor” tersebut, tapi lebih karena merasa harga diri saya sebagai perempuan ikut jatuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Istilah itu dikonstruksi sedemikian rupa sehingga menjatuhkan harga diri seorang perempuan. Fenomena munculnya istilah “pelakor” itu membuat saya merasa bahwa betapa perempuan tidak begitu pandai mengontrol emosi cemburunya di media sosial.

Mengapa perempuan harus menjatuhkan harga diri perempuan yang lain hanya karena faktor cemburu? Bagaimana mungkin kita menuntut hak untuk dihormati ketika kita tidak mampu menghormati diri sendiri?

Cemburu bagi saya adalah persoalan ketakutan. Takut tidak dianggap, takut tidak dipilih, takut diabaikan, takut disingkirkan, dan banyak ketakutan lainnya. Ketika Bu Dendy merasakan kecemburuan itu, hal yang sedang menguasai dirinya, salah satunya adalah perasaan takut kehilangan. Tentu Bu Dendy takut kehilangan cinta suaminya. Takut kehilangan perhatian suaminya.

Perempuan yang cemburu sering dikonotasikan sebagai perempuan yang kekanakan dan brutal. Perempuan yang tenang sekalipun, jika dihadapakan dengan perasaan cemburu, akan tersulut dan cenderung meledak-ledak, atau melakukan hal-hal di ambang batas kewarasan. Namun, ada hal yang perlu dipahami. Dalam konteks perempuan dan laki-laki yang sedang menjalani sebuah hubungan, atau katakanlah sebuah “keterikatan”, ada hal-hal yang memang harus dimengerti mengenai keadaan psikologis masing-masing dalam menghadapi kecemburuan.

Saya pernah berdiskusi dengan sahabat saya mengenai sebuah Jurnal Psikologi yang mengatakan bahwa faktor kecemburuan laki-laki dan perempuan memanglah berbeda. Teori psikologi evolusioner mengemukakan bahwa laki-laki dan perempuan akan berbeda secara psikologis dalam menilai tanda-tanda yang dapat menimbulkan kecemburuan (Symons, dalam Buss, Shackelford, & Bennett, 2002).

Perbedaan laki-laki dan perempuan dalam kecemburuan sudah dibuktikan berkali-kali oleh peneliti yang berbeda dalam penelitian yang memandang kecemburuan dari sisi psikologis, fisiologis, dan lintas budaya (Buss, Shackelford, & Bennett, 2002). Buss et al. (1992), Cramer et al. (2002), dan Fernandez dan Vera-Villarroe (2007) secara konsisten membuktikan bahwa laki-laki akan merasa lebih tertekan dengan adanya perselingkuhan seksual pasangan daripada perempuan, sedangkan perempuan akan merasa lebih tertekan dengan adanya perselingkuhan emosional pasangan daripada laki-laki.

Artinya, akan sangat mudah membuat perempuan cemburu daripada laki-laki. Kecemburuan emosional membuat seorang perempuan akan sangat khawatir ketika pasangannya memberikan perhatian pada orang lain, sedangkan bagi seorang laki-laki bisa saja hal tersebut adalah suatu kewajaran.

Di sisi lain, perempuan memang cenderung ekspresif dalam menghadapi sebuah kecemburuan. Laki-laki dengan gengsi dan sifatnya yang selalu merasa ingin terlihat dominan tentu tidak akan mau menunjukkan emosi cemburunya dengan vulgar. Beberapa bahkan terlihat sangat santai menghadapi hal tersebut.

Saya rasa, kecemburuan adalah faktor penting yang harus diperhatikan dalam manejemen emosi seorang perempuan untuk mempertahankan sebuah hubungan yang baik dan sehat. Jika Bu Dendy mampu mempermalukan Nyalla di depan publik, ada kisah lain yang lebih tragis dari itu. Pada buku kumpulan fiksi mini berjudul Cemburu Itu Peluru yang pernah saya beli beberapa tahun lalu, diceritakan bagaimana kecemburuan mampu menjadi motif terbesar dalam membunuh seseorang. Mengerikan bukan?

Tinggalkan Balasan