Puisi-puisi dari Kelas Menulis Kreatif

Empat puisi yang dimuat di sini lahir dari sebuah ruang belajar yang sederhana namun penting: Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang (UNPAM) bekerja sama dengan jejaring duniasantri di Al-Zastrouw Library pada 12 Maret 2026. Puisi-puisi ini tentu bukan representasi yang paling matang dari seluruh karya peserta yang terkumpul.

Ada satu hal kecil yang patut dicatat dari seleksi ini: penulisan nama pengarang yang tidak disingkat dan ditulis secara lengkap. Dalam dunia kepengarangan, nama bukan sekadar identitas administratif. Ia adalah tanda kehadiran seorang penulis di dalam karyanya, sekaligus bentuk tanggung jawab estetik atas kata-kata yang dituliskannya. Nama yang ditulis utuh menandakan bahwa seorang penulis bersedia berdiri di belakang puisinya sendiri. Dalam sejarah sastra, banyak karya dikenang bukan hanya karena teksnya, tetapi juga karena nama yang menanggungnya. Karena itu, menuliskan nama dengan lengkap dapat dipahami sebagai langkah kecil namun penting dalam pendidikan kepengarangan: sebuah cara memberi penghargaan kepada diri sendiri sekaligus kepada karya yang dilahirkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keempat puisi yang dipilih memperlihatkan kecenderungan yang beragam, tetapi masih bergerak di sekitar pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Puisi Renata Fitriani, misalnya, memanfaatkan suasana Lebaran sebagai ruang ingatan yang intim. Takbir yang “menggema seperti ombak di pantai jiwa” menghadirkan suasana religius yang lembut, sementara bayang ibu yang muncul di sela-sela doa dan pelukan keluarga memberi lapisan emosional yang akrab. Puisi ini bekerja melalui kesederhanaan pengalaman: mata sembab, tawa keluarga, dan doa yang bergaung dalam dada.

Nada yang lebih langsung terlihat pada puisi Fahmi Al Ahyar. Puisinya bergerak dalam bentuk refleksi moral tentang pentingnya memaafkan di bulan Ramadan. Diksi yang dipilih cenderung terang dan komunikatif, dengan metafora embun yang membersihkan daun sebagai gambaran tentang hati yang kembali jernih. Puisi ini menunjukkan kecenderungan untuk menempatkan puisi sebagai medium pengingat, hampir seperti nasihat yang dipuisikan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan