Bagi anak-anak, salah satu momen paling ditunggu saat Lebaran bukan hanya ketupat atau baju baru, melainkan amplop putih tipis yang diselipkan orang dewasa usai bersalaman. Uang Lebaran, atau yang akrab disebut angpau atau THR, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini terasa begitu lumrah hingga hampir tidak ada yang bertanya kapan ia mulai ada, mengapa ia dilakukan, dan apakah makna aslinya masih utuh sampai hari ini.
Secara historis, tradisi memberi uang kepada anak-anak saat hari raya tidak memiliki akar langsung dalam syariat Islam. Hal tersebut lebih merupakan akulturasi budaya yang masuk melalui jalur perdagangan dan interaksi antarperadaban, termasuk pengaruh tradisi Arab dan Tionghoa yang mengenal pemberian angpau sebagai simbol keberuntungan dan kasih sayang kepada yang lebih muda.

Dalam konteks Islam Nusantara, tradisi ini kemudian diserap dan diisi dengan semangat berbagi dan mempererat silaturahmi, sehingga berkembang bukan sekadar sebagai kebiasaan, melainkan sebagai ekspresi kepedulian antargenerasi. Makanya di Betawi dikenal istilah nanggok, di Surabaya ada tradisi galak gampil, di Minang ada manambang, yang semuanya merujuk pada anggota lebaran.
Namun jika kita perhatikan dengan seksama, makna itulah yang kini mulai bergeser. Di banyak keluarga, uang Lebaran tidak lagi hadir sebagai ekspresi spontan kasih sayang, melainkan telah berubah menjadi kewajiban sosial yang tidak tertulis. Orang dewasa yang tidak memberi dianggap pelit, jumlah yang diberikan menjadi bahan perbandingan, dan anak-anak pun mulai mengukur momen bersalaman dari seberapa tebal amplop yang mereka terima. Tradisi yang semula lahir dari ketulusan perlahan bertransformasi menjadi transaksi yang dibungkus nuansa hari raya.
Pergeseran ini semakin terasa di era digital. Kemudahan transfer uang melalui aplikasi perbankan membuat uang Lebaran kini bisa dikirim tanpa tatap muka, tanpa jabat tangan, dan tanpa momen kebersamaan yang menyertainya.
Sebuah survei daring yang dilakukan oleh Populix pada tahun 2023 mencatat bahwa sebagian besar responden generasi muda menganggap transfer digital sebagai cara yang sah dan praktis untuk memberi uang Lebaran. Praktis memang, tetapi ada yang hilang di sana: kehangatan sentuhan, tatapan mata, dan doa yang diucapkan langsung dari mulut ke telinga.
