Bagi anak-anak, salah satu momen paling ditunggu saat Lebaran bukan hanya ketupat atau baju baru, melainkan amplop putih tipis yang diselipkan orang dewasa usai bersalaman. Uang Lebaran, atau yang akrab disebut angpau atau THR, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini terasa begitu lumrah hingga hampir tidak ada yang bertanya kapan ia mulai ada, mengapa ia dilakukan, dan apakah makna aslinya masih utuh sampai hari ini.
Secara historis, tradisi memberi uang kepada anak-anak saat hari raya tidak memiliki akar langsung dalam syariat Islam. Hal tersebut lebih merupakan akulturasi budaya yang masuk melalui jalur perdagangan dan interaksi antarperadaban, termasuk pengaruh tradisi Arab dan Tionghoa yang mengenal pemberian angpau sebagai simbol keberuntungan dan kasih sayang kepada yang lebih muda.

Dalam konteks Islam Nusantara, tradisi ini kemudian diserap dan diisi dengan semangat berbagi dan mempererat silaturahmi, sehingga berkembang bukan sekadar sebagai kebiasaan, melainkan sebagai ekspresi kepedulian antargenerasi. Makanya di Betawi dikenal istilah nanggok, di Surabaya ada tradisi galak gampil, di Minang ada manambang, yang semuanya merujuk pada anggota lebaran.
