LAKON MATI SEKAWAN PAPAT

LAKON MATI SEKAWAN PAPAT

(Babak pertama, hijau purba menganga
tanah digali, mesin merantak
kulit-kulit rimba—
lighting menyorot kuburan sekawan papat)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

(Lakon pertama—Arba—
mengunjungi kubur nisan berjamur
menikmati punggung
malam yang nyenyat)

Kukunjungi kuburanku sendiri
Dihantui sepi
Makin hari makin ngeri
Pundakku terasa nyeri
Tetangga kuburan tambah lagi
Ia dituduh mati
gantung diri

(Lakon keduaRumalehernya terlilit
proyek, napasnya tersengal asap kuasa,
Tubuhnya kaku, dibekukan dusta)

Aku bukan tumbal proyek
yang dikoyak industri
gentayang jiwa melayang
di atap Nagekeo
mencari-cari keadilan

(Lakon tertua
menampakkan diri.
Lalu duduk di atas nisan
tak bernama.
Sambil menyulut batang rokok
yang dikirim peziarah
bersama tabur sekar yang mekar)

“Kalian jangan ribut sendiri!
Harusnya kita berdiskusi!”

Saban hari
Kami ngerumpi
Harap-harap cemas

Sudah mati tapi masih punya nyali.”
Ceruk-ceruk terus dikeruk
Kenapa ia tak menggali kuburnya sendiri?”
Salimtetua kamiberbisik di telinga kiri
Ia suka menggali kubur orang lain!”
Kubur yang terus digali, tak ditutup lagi!”

(Babak kedua, mereka berdiri
“apa ada anggota
baru lagi?” )

Celingukan;
Kanan, kiri
Depan, belakang
“Apa yang kalian cari?”

(Lakon keempat bertandang
adik Salim, Gosi)

“Ke mana saja selama ini?”
“Menghitung mayat hidup yang belum mati,
berkeliaran menggaruk bumi.”

Kami bertiga bermuka-muka
terangguk-angguk
menggeleng-geleng kepala

(Babak ketiga, mereka saling memeluk
lalu masuk ke liangnya sendiri-sendiri)

Babak belum selesai, “ternyata masih ada lagi,
tapi tidak dimakamkan di lakon ini!”

Malang, 1-2 Februari 2026.

SRI DAN SATI

I

Punggung malam dipenuhi kunang-kunang
menari-nari di pelataran
Beradu ublik dan strongking
Mata terjantang telanjang
Sri bersandar pada kayu-kayu tua
Dan anyaman bambu purba
sambil melagu tembang “asmarandhana”
Mengerik jangkrik menyahut
Beralun mengitari sanggul
Memeluk kain kebaya
Dan pipi sembabnya yang sani

II

Rintik jatuh di jantung malam
Roda, rem tua,
seperti mesin kurang oli
Menahan beban
yang bergelantungan; tanpa nyawa
Konon, mereka dihabisi narasi
Yang berdiam
dalam mulut-mulut pistol
Dor!” sekali pakai
Masuk karung penghabisan

III

Sri meriba tembang
Pada kekasihnya
yang t’lah lama hilang
ditelan operasi malam.
“Kangmas tak pernah pulang
Biar aku terus menembang.”

Lalu Sri bertemu Sati,
Dalam mimpi yang tak baka
Ia berada di surga
Tempat orang-orang terzalimi
berada.

Malang, 3 Februari 2026.

PENGHUNI RUMAH

(Kemarin, kuintip rumah tetangga
Meliuk-liuk. Sekeluarga hampir mengungsi)

Udara berangin, burung bersarang
Pohon terayun, telur terkoyak.
Semut merayap hendak berlindung
Mulut pintu nganga merentang

(Tepat di pekarangan,
suara-suara bersahut ramai
Hidup amat makmur)

Jemari air lentik gemulai
Ikan-ikan lompat menggirang
“sarapan, sarapan dimulai!”
Moncong mulutnya berluapan
Di permukaan

Jantan si ayam berkokok
Betina si jelita mengeram
Lain jantan lain betina
Lain ayam cakar mengais
Mencari cacing-cacing berkeliaran
Lalu memuntah tai ke muka tanah.

Cicak-cicak mencerca ayam
Aduh nasib jatuh terjungkal
Wallahu a’lam.

Tikus bercicit berebut ikan asin
Dari dapur belakang
Kucing datang, memangsa semua-mua; semaunya
Laba-laba atap rumah melongo
semoga tak dimangsa juga”

Malang, 3 Februari 2026.

KUBURAN PENSIL*

Ibu menggali kuburku
dengan pensil
yang kemarin
belum sempat dibeli
memakamkannya bersama
jasadku yang belum genap
tujuh hari
ia membeli pensil
hasil memungut dedaun pohon cengkih—
tempatku gantung diri.
Dalam kubur,
pensil mengajariku
menulis kata ibu
yang tak bisa kuucapkan kembali
di balik nisan makamku yang sendu
andai aku bisa hidup lagi
kan kubeli pensil-pensil dengan jerih payahku
lalu memeluk ibu

* Puisi ini terinspirasi dari kisah anak kelas 4 SD di NTT yang bunuh diri karena sang ibu mengalami kesulitan perekonomian sehingga tak bisa membelikannya pensil.

Sumber ilustrasi: depositphotos.

Tinggalkan Balasan