LAKON MATI SEKAWAN PAPAT
(Babak pertama, hijau purba menganga—
tanah digali, mesin merantak
kulit-kulit rimba—
lighting menyorot kuburan sekawan papat)

(Lakon pertama—Arba—
mengunjungi kubur nisan berjamur
menikmati punggung
malam yang nyenyat)
Kukunjungi kuburanku sendiri
Dihantui sepi
Makin hari makin ngeri
Pundakku terasa nyeri
Tetangga kuburan tambah lagi
Ia dituduh mati
gantung diri
(Lakon kedua—Ruma—lehernya terlilit
proyek, napasnya tersengal asap kuasa,
Tubuhnya kaku, dibekukan dusta)
Aku bukan tumbal proyek
yang dikoyak industri
gentayang jiwa melayang
di atap Nagekeo
mencari-cari keadilan
(Lakon tertua
menampakkan diri.
Lalu duduk di atas nisan
tak bernama.
Sambil menyulut batang rokok
yang dikirim peziarah
bersama tabur sekar yang mekar)
“Kalian jangan ribut sendiri!
Harusnya kita berdiskusi!”
Saban hari
Kami ngerumpi
Harap-harap cemas
“Sudah mati tapi masih punya nyali.”
Ceruk-ceruk terus dikeruk
“Kenapa ia tak menggali kuburnya sendiri?”
Salim—tetua kami—berbisik di telinga kiri
“Ia suka menggali kubur orang lain!”
“Kubur yang terus digali, tak ditutup lagi!”
(Babak kedua, mereka berdiri
“apa ada anggota
baru lagi?” )
Celingukan;
Kanan, kiri
Depan, belakang
“Apa yang kalian cari?”
(Lakon keempat bertandang—
