Pendidikan merupakan hak sekaligus kebutuhan bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, menuntut ilmu menjadi kewajiban yang tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Namun, pada masa lalu kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan yang memadai tidak selalu mudah didapatkan.
Di tengah kondisi tersebut, hadir sosok perempuan tangguh yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan Islam bagi kaum perempuan, yakni Mbah Nyai Khodijah.


Mbah Nyai Khodijah adalah istri KH Bisri Syansuri, ahli fikih dan salah satu ulama besar yang berperan penting dalam pendirian dan perkembangan Nahdlatul Ulama (NU). Bersama sang suami, Mbah Nyai Khodijah mendirikan pesantren putri pertama di Indonesia, yaitu Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, pada tahun 1919. Kiprah tersebut mengukuhkannya sebagai salah satu pelopor pendidikan pesantren putri di Indonesia.
Pada masa ketika pendidikan bagi perempuan masih dianggap tidak penting, Mbah Nyai Khodijah bersama KH Bisri Syansuri justru mengambil langkah yang berani dengan membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.
Saat itu, masyarakat masih memandang perempuan sebagai kelompok yang berada di ranah domestik, sementara kesempatan memperoleh pendidikan lebih banyak diberikan kepada laki-laki atau kalangan tertentu. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Nyai Khodijah untuk memperjuangkan hak perempuan dalam memperoleh pendidikan agama.
Berangkat dari keyakinan bahwa Islam memuliakan laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu, Nyai Khodijah turut mengembangkan sistem pendidikan bagi santri putri di lingkungan pesantren. Pada awal berdirinya, pesantren putri tersebut hanya memiliki empat kelas dengan jumlah santri yang masih terbatas. Bahkan, para santri pertama berasal dari lingkungan sekitar pesantren dan belajar di berada teras rumah beliau. Namun berkat ketekunan dan kesabaran dalam mendidik, jumlah santri putri terus bertambah dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan perempuan perlahan meningkat.

Kehadiran Pondok Putri Mamba’ul Ma’arif menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pelopor pendidikan pesantren putri di Pulau Jawa yang membuka kesempatan belajar bagi perempuan dari berbagai latar belakang.
Di bawah asuhan Mbah Nyai Khodijah, para santri putri memperoleh pendidikan agama yang terarah, mulai dari fikih, akhlak, ibadah, hingga pembelajaran Al-Qur’an. Peran beliau tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik yang membimbing para santri agar tumbuh menjadi perempuan yang berilmu dan berakhlak.
Kegigihan Nyai Khodijah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Bersama KH Bisri Syansuri, beliau berhasil mengubah pandangan masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Apa yang dilakukan keduanya menjadi bukti bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan umat melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Hingga kini, semangat yang diwariskan Nyai Khodijah tetap relevan. Di tengah terbukanya akses pendidikan bagi perempuan, keteladanan beliau mengajarkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keberanian, ketekunan, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Di tengah berbagai keterbatasan pada masanya, beliau tetap istikamah memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan.
Karena itu, Mbah Nyai Khodijah tidak hanya layak dikenang sebagai pelopor pesantren putri, tetapi juga sebagai inspirasi pendidikan Islam yang mendorong perempuan untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.
Warisan perjuangan Mbah Nyai Khodijah dalam bidang pendidikan terus berlanjut hingga saat ini. Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif Denanyar yang dirintisnya telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tetap menjaga tradisi pesantren sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pondok induk putri, misalnya, saat ini dihuni sekitar 180 santriwati. Selain itu, pendidikan santri putri juga dikembangkan melalui berbagai asrama putri di lingkungan Denanyar yang berada di bawah naungan Yayasan Mamba’ul Ma’arif. Di antaranya, Asrama Nur Khodijah II, Nur Khodijah III, Ar-Risalah Putri, Sunan Ampel Putri, Sunan Bonang Putri, Iskandariyah Putri, Al-Bisri Putri, Al-Hikam Putri, An-Najah Putri, Nur Khodijah III Tahsin Tahfidz, dan Az-Ziyadah Putri. Dengan keberadaan asrama-asrama tersebut, jumlah santri putri secara keseluruhan mencapai sekitar 1.040 orang.
Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif tidak hanya mempertahankan kajian kitab kuning sebagai ciri khas pendidikan pesantren salaf, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan formal yang berwawasan global. Berbagai program takhassus diselenggarakan untuk mengembangkan potensi santriwati sesuai minat dan bakatnya, seperti pendalaman Kutubut Turats (kitab kuning), Tahfidzul Qur’an, serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kehadiran program-program tersebut menunjukkan bahwa semangat pendidikan yang diwariskan Mbah Nyai Khodijah terus berkembang, melahirkan generasi muslimah yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman.
Referensi
Hamidah, Ani Mar’atul, dan Atik Masfiah. 2023. “Kontribusi Nyai Nur Khodijah: Telaah Historis Perintis Feminisme Pesantren.” At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Mu’amalah, Vol. 11, No. 2, September 2023.
