Ketika Algoritma Menentukan Siapa yang Didengar

“Dulu orang bertanya, ‘Seberapa alim gurunya?’ Kini pertanyaannya berubah menjadi, ‘Berapa banyak followers-nya?'”

Dulu, ketika seseorang hendak mencari guru, ia harus menempuh perjalanan jauh hingga ke seberang kota, bahkan melintasi batas negara. Imam besar kita, Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, juga melakukan hal yang sama. Beliau melakukan perjalanan panjang sepanjang hidupnya demi menemukan guru-guru terbaik untuk menimba ilmu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mengapa para pencari ilmu zaman dahulu rela melakukan safar yang panjang, melelahkan, bahkan memakan waktu berbulan-bulan?

Jawabannya sederhana: mereka mencari kualitas. Mungkin di daerah mereka sudah ada orang-orang yang alim, tetapi mereka meyakini bahwa ada guru lain yang memiliki kapasitas keilmuan lebih tinggi. Demi memperoleh ilmu yang berkualitas, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan menembus batas-batas geografis.

Kini keadaan telah berubah. Kita tidak perlu lagi melakukan perjalanan panjang seperti para ulama terdahulu. Cukup dengan membuka telepon genggam, kita dapat mengikuti ceramah para ustaz dan ulama dari berbagai penjuru dunia. Kita bisa belajar agama secara daring tanpa harus mendatangi mereka secara langsung.

Namun di sinilah persoalan muncul. Kita sering kali tidak mengetahui kualitas sebenarnya dari orang yang kita dengarkan. Kita tidak tahu bagaimana latar belakang pendidikannya, siapa guru-gurunya, atau apakah ia memiliki sanad keilmuan yang jelas. Lebih jauh lagi, media sosial tidak bekerja berdasarkan kualitas ilmu, melainkan berdasarkan popularitas. Akibatnya, tidak sedikit nasihat agama yang tersebar luas justru disampaikan oleh orang-orang yang kapasitas keilmuannya masih dipertanyakan.

Media sosial digerakkan oleh algoritma. Masalahnya, algoritma tidak memandang kualitas. Yang dinilai bukanlah kedalaman ilmu, melainkan seberapa menarik suatu konten bagi pengguna. Semakin banyak orang yang menonton, menyukai, berkomentar, dan membagikan sebuah konten, semakin besar pula peluang konten tersebut untuk disebarluaskan.

Di sinilah lahir ironi zaman modern. Guru agama tidak lagi selalu dinilai berdasarkan kualitas keilmuannya, melainkan berdasarkan jumlah pengikut yang dimilikinya. Akibatnya, popularitas dan keilmuan sering kali tidak berjalan beriringan.

Mengubah Cara

Jika dahulu seseorang harus menghadiri majelis ilmu, nyantri di pesantren, atau berkelana ke negeri lain untuk memperoleh pengetahuan, kini banyak orang lebih sering belajar agama melalui konten-konten pendek di media sosial.

Konten agama dalam bentuk cuplikan memang memudahkan akses terhadap ilmu. Namun, kemudahan tersebut juga memiliki sisi negatif. Potongan-potongan ceramah sering kali membuat seseorang kehilangan konteks pembahasan secara utuh sehingga ilmu yang diperoleh tidak dapat dipahami secara mendalam.

Jika diibaratkan, ilmu agama yang diperoleh dari potongan video pendek seperti makanan cepat saji: praktis dan mudah dikonsumsi, tetapi tidak selalu memberikan gizi intelektual yang memadai.

Penelitian dari UIN Raden Intan Lampung menyebut fenomena ini sebagai fragmentasi pengetahuan Islam, yaitu penyajian ajaran Islam dalam format singkat yang menyebabkan terputusnya hubungan antara sumber-sumber klasik dengan penyampaian di ruang digital. Akibatnya, banyak generasi muda memahami Islam melalui potongan-potongan informasi yang tidak saling terhubung secara utuh.

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi. Ia menyoroti banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadis yang dikutip secara sepotong-sepotong di media sosial untuk membenarkan tindakan tertentu, termasuk kekerasan dan sikap intoleran.

Bayangkan, sebuah ayat yang sebenarnya turun dalam konteks perang tertentu hanya ditampilkan satu kalimat tanpa penjelasan sejarah, sebab turunnya ayat, maupun tafsir para ulama. Orang yang melihat potongan tersebut bisa saja memahami pesan yang berbeda dari maksud sebenarnya.

Viralitas, Bukan Kualitas

Konten agama yang kita konsumsi setiap hari di media sosial pada dasarnya diseleksi oleh algoritma. Konten yang populer akan ditampilkan kepada lebih banyak pengguna, sedangkan konten yang kurang menarik akan tenggelam meskipun mungkin memiliki kualitas ilmu yang jauh lebih baik.

Masalahnya, algoritma memang tidak dirancang untuk menilai kedalaman ilmu. Tugas algoritma adalah mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di dalam platform. Karena itu, konten yang emosional, kontroversial, menghibur, atau memancing perdebatan cenderung lebih mudah viral dibandingkan kajian ilmiah yang panjang dan mendalam.

Coba perhatikan fenomena yang terjadi di media sosial saat ini. Konten agama yang membahas persoalan percintaan, jodoh, atau hal-hal yang sensasional sering kali memperoleh jutaan penonton. Sebaliknya, kajian tafsir, usul fikih, ilmu hadis, atau pembahasan kitab-kitab klasik yang membutuhkan konsentrasi tinggi biasanya hanya ditonton oleh kalangan terbatas.

Bahkan tidak jarang muncul tokoh-tokoh yang menyampaikan pendapat keagamaan kontroversial dan bertentangan dengan pandangan mayoritas ulama, tetapi tetap memperoleh perhatian besar karena pernyataannya memancing perdebatan publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa viralitas tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keilmuan.

Sebagai contoh, di berbagai platform media sosial kita sering menemukan potongan ceramah berdurasi kurang dari satu menit yang memperoleh jutaan tayangan. Sementara itu, kajian lengkap berdurasi satu hingga dua jam dari ulama yang memiliki kompetensi keilmuan tinggi justru hanya memperoleh sebagian kecil perhatian. Fakta ini memperlihatkan bahwa yang sering muncul di beranda bukan selalu yang paling berilmu, melainkan yang paling sesuai dengan cara kerja algoritma.

Tinggalkan Balasan